Abu Hasan Al-Asy’ari

ABU HASAN AL-ASY’ARI Mujaddid abad ke-3 Hijriyah, arsitek teologi (ilmu kalam) Ahlussunnah waljama’ah, yang di Barat di kenal sebagai teologi orthodoks. Nama lengkapnya Abul Hasan Ali bin Ismail Al-Asy’ari, lahir di Basrah dalam tahun 260 H/873 M. Beliau memiliki hubungan langsung dengan Abu Musa Al-Asy’ari, sahabat Nabi Suci yang berperan sebagai hakam (juru damai) dari pihak Ali bin Abi Thalib pada Perang Shiffin (peperangan antara Khalifah Ali bin Abi Thalib dan Mu’awiyah bin Abi Sofyan, gubernur Syam) pada bulan Safar 37 H/657 M.

Pada masa mudanya beliau murid tokoh Muktazilah, Abu Ali Al Juba’i. Sampai usia empat puluh tahun beliau seorang pengikut Muktazilah yang setia. Tetapi akhirnya membuang kepercayaannya yang lama dengan cara netral di Masjid Jami’i Basrah di hadapan jamaah yang besar, karena menerima peringatan Nabi Suci lewat mimpi dalam bulan Ramadhan, antara lain beliau mengatakan: “Kalian yang telah mengenal saya, tahu siapa saya, dan kalian yang tidak kenal saya biarkan kalian tahu bahwa saya adalah Abul Hasan Al-Asy’ari …. saya menyesali bahwa saya telah menjadi seorang Muktazilah. Saya membatalkan keyakinan-keyakinan tersebut. Keyakinan-keyakinan tersebut saya lemparkan sebagaimana saya melemparkan jubah ini.

Seiring dengan pernyataan kepada publik yang dilakukannya itu, beliau mulai mengembangkan suatu teologi baru yang memakai rasio untuk membela prinsip-prinsip keimanan dengan tetap loyal kepada wahyu saat memakai dialektika. Beliau menulis lebih dari 90 karya, tiga kitab di antaranya yang terkenal sampai kini, yaitu: Al-Luma’ fir-Raddi ‘ala Ahluz-Ziyaq wal-Bida’ (Kecermelangan tentang Penolakan terhadap Penganut Penyimpangan dan Bid’ah), berisi prinsip-prinsip teologi Asy’ariyah; Al-Ibanah ’an Ushulud-Diyanah (penjelasan tentang Prinsip-Prinsip Agama), yang di dalamnya beliau berupaya menarik para tradisional ekstrem yang menentang pemakaian dialektika dalam masalah agama dan serangan terhadap aliran Muktazilah yang sangat mengagungkan dialektika dalam masalah agama; Maqalatul-Islamiyyin (Makalah tentang Orang-orang Islam) yang terdiri dari tiga bagian, yaitu: Tinjauan tentang aliran-aliran dalam Islam, teologi Askhabul Hadits dan Ahlus Sunnah dan beberapa persolaan teologi.

Dari ketiga karya tersebut teranglah bahwa Al-Asy‘ari mengambil jalan tengah di antara pendapat ekstrem yang berkembang dalam masyarakat Islam pada saat itu. Teologi beliau diikuti dan dikembangkan oleh para ulama besar sesudah beliau, seperti Al-Baqillani, Al-Isfirayaini, Al-Qusyairi, Al-Juwaini, Al-Ghazali yang semuanya dari aliran Ahlus-Sunnah wal Jamaah. Tokoh yang juga ahli hukum Islam (fiqih) ini wafat dan dimakamkan di Baghdad pada tahun 324H/935M.[]

  1. Leave a comment

tinggalkan komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: