Abdul Qadir Jilani

ABDUL QADIR JILANI, mujaddid abad ke-6 Hijriyah, yang dikenal sebagai Al-Ghautsul-A’zham artinya Kutub Terbesar, karena mencapai puncak hierarki mistik. Ibnu ‘Arabi (560-638 H/1165-1240 M) menyebut beliau sebagai seorang Wali Quthub, penghulu para wali, pada zamannya. Beliau dilahirkan pada tahun 470 H (1077 M) di desa kecil Nif daerah Jilan, Iran Utara, sebelah selatan Laut Kaspia. Ayahandanya bernama Abu Shaleh, yang wafat dalam usia muda, seorang yang sangat taat kepada Allah, yang silsilahnya dapat dilacak sampai kepada Sayyidina Hasan bin Ali bin Abi Thalib, cucunda Nabi Suci. Sedang ibundanya, Siti Fatimah, putri seorang wali, Sayid Abdullah Suma’i yang dikenal sebagai seorang wali, silsilahnya dapat dilacak sampai kepada Sayyidina Husein bin Ali bin Abi Thalib, cucunda Nabi Suci. Saat berusia 18 tahun (488 H/1095 M) beliau meninggalkan Jilan menuju Baghdad guna menuntut ilmu. Ibunya yang telah janda memberikan empat puluh keping uang emas — bagian dari hak warisnya dan menjahitkannya di dalam jubahnya demi keamanan. Sewaktu akan berangkat, ibunya memberi nasihat agar dirinya jangan berdusta dan jujur, apapun risikonya. Sang ibu mengemukakan alasan, “jika dalam permulaan perjalanan mencari ilmu agama berdusta, tak akan ada harapan lagi untuk mendapatkan ilmu agama yang sesungguhnya”. Si remaja Abdul Qadir berjanji untuk menepatinya.

Dalam perjalanan, sekawanan perampok menghadang kafilahnya melakukan perjarahan. Sebenarnya para perampok tak begitu memperdulikan beliau, karena kelihatan sederhana dan miskin. Akan tetapi pemimpin perampok iseng-iseng menanyai beliau, kalau-kalau beliau punya uang. Tanpa ragu-ragu beliau menjawab, “Ya, saya memiliki empat puluh keping uang emas di balik jubah ini yang dijahit oleh ibu saya”. Lalu beliau melepaskan jubahnya dan memperlihatkan uangnya kepada sang perampok. Pemimpin perampok itu terkejut dan kebingungan, takjub akan kejujurannya, dan bertanya mengapa beliau memberitahukannya, bukankah beliau dapat saja menyatakan bahwa dirinya tak memiliki apapun dan merahasiakannya demi keselamatan uang itu? Dengan tenang Abdul-Qadir menjawab, bahwa dirinya telah berjanji pada ibunya untuk tetap berkata benar dalam situasi apapun. Jawaban ini sangat mengguncangkan sang pemimpin perampok, sehingga ia jatuh bersimpuh dan bertobat atas segala perbuatannya dan berkata, “Engkau menjaga janjimu pada ibumu, sedang kami melupakan janji kami kepada Sang Pencipta”. Kawanan itu mengembalikan seluruh jarahannya dan bertobat.

Di Baghdad beliau mempelajari hadits dari tujuh belas guru dan fiqih dari lima orang ulama. Beliau yang lebih tertarik kepada mazhab Hambali dan menerima pelatihan spiritual (thariqat) dari Syaikh Abul-Khair Hammad bin Muslim Ad-Dabbas (w. 525 H /1131 M), seorang wali yang dikenal bukan melalui karya tulisnya, tetapi melalui kesempurnaan spiritualnya. Setelah selesai studi akademis dan pelatihan spiritualnya di Baghdad, beliau melakukan uzlah (pengasingan diri) di reruntuhan bangunan di sekitar Baghdad selama sebelas tahun. Sesudah itu dakwah ke tengah-tenah masyarakat dan memberikan khotbah dengan penuh semangat kepada umat. Khotbah-khotbah beliau sungguh luar biasa daya tarik dan pengaruhnya. Ribuan pengunjung terkesima. Mereka berasal dari Baghdad dan sekitarnya, bahkan banyak umat Yahudi dan Kristen pun sering menghadiri majelis untuk mendengarkan khotbahnya. Banyak di antara yang bertobat dan masuk Islam di tempat dan saat itu juga.

Selama empat puluh tahun (521-561 H/1127-1165 M) beliau menyampaikan khotbah, berdakwah, mengajar dan mengeluarkan fatwa. Tiga kali seminggu, Selasa sore dan Jum’at pagi di madrasahnya dan Ahad pagi di ribatnya. Lewat madrasah, beliau mengajarkan berbagai macam ilmu agama, dan lewat ribath (semacam biara kecil), mengembangkan ide-ide tajdid mistik dalam kehidupan spiritualnya.

Seperti dikemukakan Khaliq Ahmad Nizami, beliau “berpandangan bahwa syariat merupakan sinequanon bagi segala bentuk kemajuan spiritual dan kebudayaan. Pendekatan ini tidak hanya menjembatani jurang yang membentang antara fuqaha dan para sufi, tetapi sekaligus juga menciptakan keseimbangan di kalangan ahli fiqih dalam memahami hukum Islam, antara yang menekankan esensi (ruh, spirit) dan yang menekankan teks”.

Syaikh yang menikah dalam usia senja, pada usia 51 tahun ini mewariskan ide mistik dan religiusnya dalam buku: (1) Ghunyat li-Thalibi Thariqil-Haqq, (2) Al-Fathur-Rabbani, sebuah rekaman 62 khotbahnya selama tahun 545-546 H/1150-1152 M dan Futuhul Ghaib, sebuah rekamam dari 78 khotbah yang dihimpun oleh putranya, Abdurrazaq.

Setelah beliau wafat dalam tahun 561 H/1166 M, tugas beliau diteruskan oleh kedua putranya, yaitu: Abdul Wahhab (552-593 H/1151-1196 M) menggantikan perannya di madrasah, sedang putra lainnya, Abdurrazaq (528-603 H.1134-1206-7 M) aktif dalam disiplin spiritual dan pengelolaan ribath. Serangan Hulagu Khan ke Baghdad (658 H/1258 M) mengakhiri madrasah dan ribath ini, dan para pengikutnya terpencar-pencar ke seluruh dunia mulai dari Maroko sampai Merauke.[]

  1. Leave a comment

tinggalkan komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: