Al-Fatihah: Tafsir Teks dan Konteks Ayat 4-7 [5]

Ayat keempat Iyyâka na’budu wa iyyâka nasta’în, artinya kepada Engkau kami mengabdi dan kepada Engkau kami mohon pertolongan. Katana’budu artinya kami mengabdi, mengandung pengertian ketaatan yang disertai dengan segenap kerendahan hati (TA), yakni ketaatan kepada perintah Ilahi, pandangan, hukum, norma, dan nilai yang termaktub dalam Alquran, agar akhlak Ilahiyah menyerap ke dalam hati sanubari kita, pandangan dan tabiat kita berubah dan sekalian belenggu perbudakan kepada keinginan-keinginan duniawi beserta akibat-akibatnya diputuskan, sehingga kita hidup kembali dengan jiwa merdeka, adil dan bijaksana. Singkatnya, dengan sikap batin yang baru, yang memberi hak kepada kita akan sebutan Khalifah Allah, wakil Allah di muka bumi. Sebagai Wakil Allah tentu berusaha keras “mengambil warna Allah”(2:138), memiliki sifat-sifat yang menyerupai Sifat-sifat Allah (7:180) atau seperti diperintahkan oleh Rasulullah saw.: Takhallaqû bi akhlâqillâh, berbudi pekertilah kamu dengan pekerti Allah. Inisiatif tentang hal ini harus diambil oleh manusia sendiri, sebab Allah tak mengubah keadaan sesuatu bangsa atau karunia yang dianugerahkan kepadanya, hingga mereka mengubah keadaan batin mere-ka sendiri (13:11; 8:53), dan manusia tak dapat memperoleh selain apa yang ia usahakan (53:39). Jadi manusia dikaruniai kebebasan untuk memilih, karena itu ada sorga dan neraka.

Perkembangan khuluq insani tersebut tak mudah men-capainya, maka kita dibimbing agar mohon pertolongan dan bantuan Allah Yang Maha-tahu, Maha-kuasa dan Maha-bijaksana, Sumber segala kekuatan dan segala hukum dan hanya kepada-Nya saja sekalian makhluk bergantung: wa iyyâka nasta’în. Kata kerja ista’ana atau mohon pertolongan (‘aun) Allah mengandung makna, bahwa manusia tak boleh putus asa dan putus harap akan tercapainya suatu tujuan yang baik (38:42), ia harus tabah hati, tekun dan tenang (3:119; 2:153), sebab:

  1. Allah adalah tempat bergantung segala sesuatu (112:2) dan asal segala sesuatu (3:119, 138), Ia dapat berbuat apa saja yang tampaknya mustahil bagi manusia (11:107).
  2. Pertolongan Allah tak akan mengecewakan harapan, sebab janji Allah itu benar (10:55) dan senantiasa dipenuhi (73:18), karena Allah tidak melalaikan janji-Nya (2:80).
  3. Orang beriman dianjurkan agar senantiasa dzikrullâh (62:10 dan menjadikan Allah tujuan hidupnya (94:8; 27:62). Lillâhi ta’âla motif segala perilaku dan perbuatannya (6:162).

Dalam tiga ayat pertama Allah disebut sebagai orang ketiga, tetapi dalam ayat ini Dia disebut sebagai orang kedua. Renungan atas keempat sifat pokok Ilahi membangkitkan keinginan dan hasrat yang begitu kuat untuk berjumpa Dia Yang Maha-kasih dan mempersembahkan pengabdian sepenuh hati dan jiwa kepada-Nya, sehingga untuk memuaskan jiwanya itu bentuk orang ketiga digubah menjadi bentuk orang kedua, Engkau.

Perkembangan khuluq insani tersebut tak mudah mencapainya, maka kita dibimbing agar mohon pertolongan dan bantuan Allah Yang Maha-tahu, Maha-kuasa dan Maha-bijaksana, Sumber segala kekuatan dan segala hukum dan hanya kepada-Nya saja sekalian makhluk bergantung: wa iyyâka nasta’în. Kata kerja ista’ana atau mohon pertolongan (‘aun) Allah mengandung makna, bahwa manusia tak boleh putus asa dan putus harap akan tercapainya suatu tujuan yang baik (38:42), ia harus tabah hati, tekun dan tenang (3:119; 2:153), sebab:

Ayat kelima, ihdinash-shirâathal-mustaqîm, artinya “Pimpinlah kami pada jalan yang benar”. Jelaslah bahwa yang dimohon orang beriman bukanlah pertolongan Ilahi untuk memperoleh suatu anugerah-Nya tanpa berbuat apa-apa; dia hanya melahirkan hasratnya yang menyala-nyala ke hadirat Allah Azza wa jalla – Yang Maha-besar dan Maha-kuasa – berusaha menempuh suatu jalan yang benar atau lurus dalam menyelesaikan urusan sehari-hari, yaitu suatu jalan yang meningkatkan martabat dan kehormatannya. Singkatnya, isti’anah (pertolongan) yang memungkinkan dia memelihara kedudukan dan melaksanakan peranannya sebagai Khalifah Allah di muka bumi.

Kata hidayah bukan hanya sekedar “menunjukkan jalan yang lurus” (90:10), melainkan pula “membimbing ke jalan yang lurus” (29:69) dan “membuatnya seseorang mengikuti jalan yang lurus itu” (7:43). Pertolongan Ilahi sangat diperlukan pada setiap langkah dan saat, maka perlu doa terus menerus untuk mencapai tujuan rohani yang lebih luhur lagi. Apakah tujuan rohani yang luhur itu? Ayat berikutnya menjelaskannya.

Ayat keenam “Shirâthalladzîna an’amta ‘alaihim”, artinya “jalan orang-orang yang telah Engkau beri kenik-matan”. Dalam ayat ini ditegaskan bahwa orang beriman sejati tidak puas hanya dengan dipimpin ke jalan lurus untuk melakukan amal saleh tertentu saja, tetapi hendaknya lebih tinggi lagi sebagaimana telah dicapai oleh orang-orang pilihan Tuhan yang telah memperoleh sukses hakiki dan kemenangan, serta kejayaan yang gilang gemilang dalam sejarah kemanusiaan. Menurut Ibnu Abbas orang-orang yang telah diberi kenikmatan itu ialah empat golongan manusia yang disebutkan dalam 4:69, yakni: para Nabishiddiqîn (manusia tulus), syuhadâ’ (manusia setia) dan shalihin(manusia luhur). Shiddiqîn adalah orang-orang tulus, yaitu orang-orang yang benar dalam hal iman dan kata-kata dan perbuatan mereka menguatkan kebenaran itu. Syuhadâ’ adalah manusia setia, yaitu orang-orang yang dengan kata-kata dan perbuatan mereka menjadi saksi-saksi tentang kebenaran agama Allah dan orang-orang yang terbunuh atau mengorbankan hidupnya dalam membela agama-Nya. Sedang shalihin adalah manusia-manusia luhur, yaitu orang-orang yang tetap menempuh jalan yang benar dalam segala perbuatannya, apapun yang akan terjadi.

Keempat golongan ini seperti dijelaskan oleh Soedewo P. K. adalah “pemimpin rohani, yang tujuan hidupnya bukan saja kesempurnaan rohani diri sendiri, melainkan juga kesempurnaan rohani orang lain; mereka itu orang-orang yang telah mencapai perhubungan dengan Allah dan dianugerahi karunia-karunia seperti busyra (10:62-64) ataumubasysyirât (visiun-visiun yang benar) (Bukhari 92: 4, 5) yang berjuang untuk membongkar kejahatan-kejahatan dengan akar-akarnya dan menegakkan kebenaran, keindahan dan kebaikan di muka bumi ini” (Intisari Qur’an Suci, hal. 78-79). Jadi orang Islam harus memohon pula kenikmatan Allah yang dianugerahkan kepada orang tulus dalam membasmi kejahatan dan menegakkan kebaikan di dunia dengan tangannya jika mampu, jika tidak dengan lisannya dan jika terpaksa tidak mampu pula dengan hatinya.

Akhirnya yang perlu diperhatikan ialah bahwa kenikmatan Ilahi tertinggi, berupa wahyu Ilahi, tidak hanya dikaruniakan kepada para Nabi saja, tetapi juga dikaruniakan kepada orang-orang tulus yang mengikuti jalan yang benar. Alquran memberikan contoh, wahyu Ilahi dikaruniakan kepada orang-orang tulus yang bukan Nabi, misal-nya: kepada ibu Nabi Musa (20:38) dan keapda murid-murid Nabi Isa (5:111), dan wahyu-wahyu dalam bentuk seperti itu dijanjikan pula kepada orang-orang tulus di antaraumatIslamsebagaimana dinyatakan oleh Rasulullah saw.: “Di antara mereka terdapat orang yang diberi firman Allah, sekalipun mereka bukan Nabi” (Bukhari). Antara kenabian dengan wahyu adalah dua hal yang berbeda. Dengan terutusnya Nabi Muhammad saw. dan sempurna-nya agama dalam Islam (5:3) kenabian telah diakhiri (33:40), tetapi pintu wahyu tetap terbuka, yang secara praktis disebut ilham, wahyu (lengkapnya wahyu matlu) hanya untuk para Nabi saja.

Akhirnya ayat ketujuh “Ghairil-maghdlûbi ‘alaihim waladhdhâlîn”, artinya “Bukan (jalan) orang-orang yang terkena murka dan bukan pula (jalan) orang-orang yang sesat”. Di sini umat Islam diperingatkan bahwa sekalipun mereka telah menerima kenikmatan Ilahi, mereka dapat terkena murka dan menyimpang dari jalan yang menyimpang dari jalan yang menuju kesempurnaan. Sebagaimana kaum Yahudi yang mengabaikan perbuatan baik, tak melaksanakan jiwa ajaran agama, sekalipun mereka me-megang teguh ajaran itu secara lahiriah (skripturalis); mereka terkena murka Ilahi (2:61, 90; 3:111; 5:60), karena eksklusivistik, menolak kerasulan Isa Almasih dan ber-usaha keras membunuh beliau dan membasmi agama beliau. Sedang kaum Kristen menjadi tersesat karena juga melebihi batas mereka mengangkat seorang Nabi yang fana’fillâh ke derajat ketuhanan, sehingga qâlu innallâha huwal-masîhubnu maryâm, mereka berujar sesungguhnya Allah itu adalah dia Almasih bin Maryam (5:17, 72); inilah akar kesesatan mereka (5:77). Berkenaan dengan kedua umat ini Rasulullah saw. bersabda: “Orang-orang yang terkena murka ialah kaum Yahudi dan orang-orang yang tersesat ialah kaum Nasrani” (Tirmidzi). Namun perlu diingat bahwa mereka terkena murka dan tersesat bukan karena ke-Yahudian dan ke-Kristenannya, melain-kan karena ekstremitas dan eksklusivitas mereka. Jadi sabda Rasulullah saw. itu seperti dijelaskan oleh Maulana Muhammad Ali, “hanya penjelasan saja, tak membatasi arti aslinya yang dipakai dalam ayat ini. Dengan demikian umat Islam diajarkan doa, agar mereka jangan sekali-kali mengabaikan perbuatan baik selagi mereka berpegang teguh pada bunyinya hukum syariat dan jangan pula merusak ajaran agama, dan agar mereka tetap pada shirâthal-mustaqîm, dengan menjauhkan diri dari perbuatan yang melewati batas”.

Sebagaimana telah diterangkan di atas bahwa tiga ayat terakhir surat Alfatihah membeberkan permohonan yang lahir dari hasrat jiwa yang menyala-nyala di hadapan Tuhan Yang Maha-pencipta, untuk berjalan di jalan yang benar, tak menyimpang ke kana atau ke kiri. Apakah permohonan tersebut tak diijabahi oleh Tuhan, padahal permohonan tersebut senantiasa diserukan di muka bumi? Allah sebagai pihak kedua senantiasa mengabulkan atau mengijabahi permohonan hamba-hamba-Nya (2:186). Ijabah tersebut telah dinyatakan dalam surat berikutnya, Albaqarah yang berbunyi: “Alif Lâm Mîm”, Aku Allah Yang Maha-mengetahui (2:1), selanjutnya “Ini Kitab yang tak ada keragu-raguan di dalamnya, petunjuk bagi orang yang menunaikan kewajiban” (2:2), dan seterusnya. Sungguh ajaib, Alfatihah yang diturunkan pada zaman Mekah permulaan mempunyai hubungan erat dengan wahyu yang diturunkan 14 tahun kemudian di Madinah. Hamba sebagai orang pertama aku atau kami dan Allah sebagai pihak keduaEngkau, atau sebaliknya. maka dari itu Rasulullah bersabda bahwa barangsiapa membaca Alquran berarti ia bermukallamah (berwawansabda) dengan Tuhan.[]

  1. #1 by Anonymous on 26/10/2016 - 10:02 pm

    Apa do’a ini illahi layyin qolbahum

tinggalkan komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: