Al-Fatihah: Tafsir dalam Konteks Sejarah [2]

Ada berbagai pendapat tentang pewahyuan surat ini. Sementara pakar berpendapat surat ini diwahyukan dua kali, di Mekah dan Madinah. Tetapi menurut jumhur ulama diwahyukan di Mekah pada zaman permulaan kenabian. Muhammad Izah Darwazah menempatkan pada urutan nomor lima, sesudah surat nomor 74 Almuddatstsir, wahyu ke-4. Sesudah surat Alfatihah, diwahyukan surat nomor 111, Allahab. Jadi dalam menafsirkan surat ini dalam Konteks Sejarah sekurang-kurangnya perlu memahami surat Almuddatstsir yang mendahuluinya dan surat Allahab yang mengikutinya, wahyu ke-6.

Surat Almudatstsir tak diwahyukan sekaligus, hanya bagian permulaan saja yang diwahyukan dalam urutan ke-4, tepatnya ayat pertama sampai ayat berapa, wallahu a’lam. Demikian pula surat Almuzammil yang diwahyukan dalam urutan ke-3, juga hanya bagian permulaannya tanpa diketahui secara tepat. Ada yang berpendapat bahwa kedua surat itu agaknya ‘kembar’ karena keduanya berkaitan begitu erat dalam hubungan dengan saat kedua surat ini diturunkan – yakni sesudah terjadi masa fatrarul-wahyi, terputusnya wahyu untuk sementara – serta nada dan tujuannya. Rasulullah saw. sebagai Sang Muzammil atau Orang yang berselimut dianjurkan agar menjalankan salat dan berzikir kepada Allah sebagai persiapan untuk mengemban amanat yang amat berat, lalu dalam surat 74 ini Rasulullah saw. diseru Ilahi sebagai Muddatstsir, orang yang berselubung. Masa fatrah yang terjadi selama sekitar enam bulan lamanya terasa amat berat bagi Rasulullah saw. dan beliau amat berduka cita karena waktu selang itu. Beliau menyelubungi diri dengan kain, saat itu datanglah malaikat Jibril yang memberitahu agar beliau jangan menyendiri lagi, tetapi supaya bangun dan memberi peringatan kepada bangsa yang tenggelam dalam kejahatan dan kebiadaban. Beliau dianjurkan agar senantiasa mengagungkan Tuhannya, menganggap kecil segala yang ada di alam semesta ini, dan agar membersihkan dirinya, pakaiannya, tempat tinggalnya, dari kekotoran sebagai tanda kebersihan dan kesucian cita-citanya, serta seruan untuk menjauhkan diri dari perbuatan dosa syirik dan dosa-dosa lainnya, dan dalam menjalankan tugas kerasulan hendak-nya sabar, ikhlas, dan tanpa pamrih, hanya karena ridha Allah semata.

Tak lama sesudah itu turunlah surat Alfatihah, wahyu kelima, yang diturunkan secara utuh tujuh ayat. Oleh karena itu ada yang berpendapat bahwa Alfatihah adalah wahyu yang pertama. Tentunya dalam arti yang pertama diwahyukan seutuhnya – sebagaimana surat Annashr adalah surat yang terakhir, dalam arti surat yang diwahyukan seutuhnya – karena surat-surat yang mendahuluinya hanya sebagian ayat saja, misalnya surat 96 Al’alaq yang terdiri dari 19 ayat; lima ayat pertama menurut ijma’ ulama ada-lah yang pertama diwahyukan, sedang ayat ke-6 sampai ke-19 beberapa bulan atau tahun kemudian baru diwahyu-kan setelah sebagian surat Alqalam, Almuzammil, dan Almuddatstsir serta Alfatihah. Kapan dan wahyu keberapa 14 ayat lainnya diwahyukan tak ada keterangan, wallâhu a’lam bish-shawwab.

Surat Alfatihah terdiri dari tujuh ayat. Tiga ayat pertama menerangkantentang nama diri Tuhan, Allah, dengan empat sifat utamanya, yaitu: Rabb, Rahmân, Rahîm, danMâliki yaumiddîn, yang semuanya menyatakan keagungan dan kemuliaan serta keterpujian Dzat Tuhan. Tiga ayat terakhir membeberkan hasrat jiwa manusia yang menyala-nyala di hadapan Tuhan Yang Maha-pencipta lagi Maha-pengasih dan penyayang, untuk berjalan di jalan yang benar, yaitu jalan mereka yang telah dikaruniai nikmat Ilahi, yakni para Nabi, para shiddiqin, para syuhada’, dan para shalihin, bukan jalan yang menyimpang ke kanan, sebagaimana kaum Yahudi, dan bukan pula jalan yang menyimpang ke kiri, sebagaimana kaum Kristiani. Akibat penyimpangan mereka itu kehidupan Sorgawi lewat aga-ma itu hanya sampai kepada amani atau lamunan belaka (2:111), dan Kerajaan Sorga dicabut dari mereka diberikan kepada bangsa lain (4:51-53, lihat Mat 21:42-44). Adapun ayat yang di tengah menyatakan bergantungnya manusia dalam segala hal kepada Allah SWT.

Sebagai doa, Alfatihah sangat signifikan dalam hidup dan kehidupan umat manusia. Betapa tidak. Tujuh ayatnya yang diulang-ulang oleh setiap orang Islam. Sekurang-kurangnya 17 kali setiap harinya. Ada yang membaca dengan jahar (keras) dan ada pula yang membaca dengan sirr (rahasia). Umat Kristen diajari doa ‘Bapa kami’ yang memohon datangnya Kerajaan Sorga atau Kerajaan Allah di muka bumi, yang berarti bahwa Kerajaan itu belum datang, padahal sebenarnya Kerajaan itu sudah datang, yaitu tegaknya Daulah Islamiyah yang dirintis oleh Rasulullah saw. yang kedatangan beliau oleh Almasih dilukiskan sebagai datangnya Allah sendiri (Mat 21:33-41). Oleh karena itu umat Islam sebagai warga Kerajaan Sorga mohon agar dipimpin ke jalan yang benar atau lurus, tak menyimpang ke kanan atau ke kiri yang menggelincirkan dia keluar dari Kerajaan itu.

Penghayatan yang mendalam terhadap makna yang terkandung dalam Alfatihah yang membuat Rasulullah saw. dan para sahabatnya semakin bersemangat dan kokoh mengemban amanat menyempurnakan umat manusia dengan jalan memberi peringatan kepada mereka tentang akibat buruk perbuatan mereka yang jahat sebagaimana dinyatakan dalam wahyu yang mendahuluinya, surat Almuddatstsir. Kemudian peringatan keras itu ditujukan kepada Abi Lahab yang notabene adalah julukan paman beliau sendiri, Abdul-Uzza. Peringatan yang mengandung makna profetik itu diwahyukan setelah Alfatihah di-sosialisasikan. Surat Allahab yang dalam Mushaf nomor 111 adalah wahyu yang ke-6.[]


  1. Leave a comment

tinggalkan komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: