Al-Fatihah: Pengantar [1]

Dengan nama Allah Yang Maha-pengasih, Yang Maha-penyayang
Segala puji bagi Allah, Tuhan serwa sekalian alam
Yang Maha-pengasih, Yang Maha-penyayang
Yang memiliki Hari Pembalasan
Kepada Engkau kami mengabdi dan kepada Engkau kami mohon pertolongan
Pimpinlah kami pada jalan yang benar
Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat
Bukan jalan orang-orang yang terkena murka dan bukan pula (jalan) orang yang sesat

Surat Alfâtihah, lengkapnya Fâtihatul-kitâb artinya Pembukaan Kitab. Surat ini dikenal dengan berbagai nama, misalnya:

  1. Sab’un minal-matsâni, tujuh ayat yang selalu diulang (15:87), karena tujuh ayatnya selalu diulang oleh setiap orang Islam dalam salatnya. Menurut Zajjaj dan Abu Hayyan, nama ini mengandung puji-pujian kepada Tuhan.
  2. Alqur’ânul-‘azhîm, Alquran yang agung (15:87). Nama ini menunjukkan bahwa surat ini merupakan bagian dari Kitab yang mulia itu, dan karena itu Rasulullah menyebutnya Alquran yang agung (Musnad).
  3. Fâtihatul-kitâb atau Pembukaan Kitab (Bukhari) yang kemudian disingkat menjadi Fâtihah atau Alfâtihah saja. Nama ini menunjukkan bahwa surat ini ditempatkan pada permulaan Kitab, sebagai kunci pembuka seluruh pembahasan Alquran.
  4. Ummul-kitâb, Induknya Kitab, berarti surat ini berisi intisari seluruh Alquran yang terdiri dari 113 surat. Kata-kata kunci dan doa dalam surat ini menjadi sebab diwahyukannya seluruh Alquran.
  5. Sûratush-shalât, surat Salat, karena surat ini wajib di-baca dalam salat, baik salat maktubah maupun nafilah, berjama’ah maupun munfaridah. Sebagaimana ditegas-kan oleh Rasulullah saw. “Salat tidaklah sempurna jika tak membaca Fâtihatul-Kitâb” (Bukhari).
  6. Suratud-du’â, surat Permohonan, karena surat ini berisi petunjuk cara berdoa yang benar dan juga berisi permohonan yang paling mulia di antara sekalian doa dalam agama apa saja, bahkan menduduki tempat yang paling atas di antara doa-doa yang diajarkan oleh Alquran.
  7. Alhamd, Puji-pujian, berarti surat ini menjelaskan tujuan agung dari kejadian manusia dan mengajarkan bahwa perhubungan dengan Tuhan dengan manusia itu suatu perhubungan berdasarkan kemurahan atau cinta dan kasih sayang yang tulus.
  8. Asysyifâ, Yang menyembuhkan dan obat, berarti surat ini menjadi obat mujarab terhadap segala macam penyakit dalam hati manusia, hâdzâ syifâ’un limâ fish-shudûr, ini adalah penyembuh bagi penyakit apapun yang ada di dalam hati (10:57).
  9. Ruqyah, Jimat atau Mantera, berarti surat ini bukan hanya doa untuk menghindarkan diri dari segala pe-nyakit, tetapi juga sebagai jaminan untuk perlindungan terhadap setan dan menguatkan hati untuk melawan dia.
  10. Alkanz, Khazanah Perbendaharaan, berarti surat ini mengandung khazanah. Ilmu yang tak terbatas Rasu-lullah saw. bersabda bawa “Allah SWT telah melimpahkan karunia kepadaku sebuah Fâtihatul-Kitâb dan Allah berfirman, bahwa surat ini adalah perbendaha-raan yang luhur dan tersembunyi dari pada kumpulan perbendaharaan ‘arsy-Ku” (Baihaqi dani Anas r.a.).

Surat ini diawali dengan kalimat Basmalah yang berbunyi Bismillâhir-rahmânir-rahîm, yang juga mengawali pula 113 surat yang lain, kecuali surat nomor 9, Attaubah atau Albara’ah; akan tetapi di tengah-tengah suatu surat, yaitu dalam 27:30, dicantumkan kalimat Basmalah; dengan demikian, kalimat itu tercantum 114 kali dalam Alquran sejumlah surat-surat Alquran. Selain itu, kalimat Basmalah digunakan seluas-luasnya di kalangan umat Islam, yakni kalimat pertama yang diucapkan oleh orang Islam jika akan mengerjakan segala sesuatu. Ini mengandung arti bahwa orang Islam membuktikan di tengah kesibukan sehari-hari, sikap batin yang benar terhadap Tuhan serwa sekalian alam ialah bahwa ia harus selalu memperoleh pertolongan Tuhan Yang Maha-kuasa, sumber segala kekuasaan dan kekuatan; dengan demikian, iman kepada Allah diwujudkan dalam praktek oleh orang Islam, dengan cara yang tak ada taranya dalam sejarah agama.

Basmalah adalah ayat tungal yang keberadaannya telah dinyatakan dalam Kitab-kitab Suci terdahulu, seperti Taurat, Zabur, dan Injil. Hubungannya dengan Alfatihah, Basmalah adalah intisari Alfatihah, sebagaimana Alfatihah merupakan intisari Alquran. Basmalah termasuk ayat dalam Alfatihah yang terdiri dari tujuh ayat atau tidak, tak perlu diperdebatkan karena esensinya tetap sama, yakni sama-sama mengakui keberadaannya dan menduduki yang pertama dalam setiap surat. Namun perlu dikemukakan adanya tiga pendapat di kalangan umat Islam, yaitu:

  1. Basmalah tak diberi nomor satu dalam semua surat
  2. Basmalah dalam Alfatihah diberi nomor satu, tetapi dalam surat-surat yang lain tidak diberi nomor satu
  3. Basmalah diberi nomor satu dalam surat Alfatihah, dan juga surat-surat lainnya.

Jika dalam Alfatihah tak diberi nomor satu, ayat ketujuhnya adalahghairil-maghdlûbi‘alaihimwaladhdhâllîn.

Alfatihah adalah surat pertama dalam struktur Alquran. Dengan demikian, tak ada surat sebelumnya. Yang ada ialah Kitab Suci sebelum Alquran, yang termuda ialah Injil yang dibawa oleh Isa Almasih (Yesus Kristus), 600 tahun sebelum Alquran. Dalam Injil ada profetik yang tergenapi dengan turunnya surat Alfatihah. Profetik itu misalnya:

Alfatihah adalah surat pertama dalam struktur Alquran. Dengan demikian, tak ada surat sebelumnya. Yang ada ialah Kitab Suci sebelum Alquran, yang termuda ialah Injil yang dibawa oleh Isa Almasih (Yesus Kristus), 600 tahun sebelum Alquran. Dalam Injil ada profetik yang tergenapi dengan turunnya surat Alfatihah. Profetik itu misalnya:

  • Tentang datangnya Kerajaan Allah. Yesus di Galilea bernubuat: “Waktunya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percacayalah kepada Injil” (Mrk 1:15). Yang dimaksud telah dekat adalah tiadanya nabi lagi antara Almasih sampai Nabi Muhammad saw. Rasulullah saw. sendiri bersabda bahwa baini wabainaku laisa nabiyyun, antara aku dengan dia (Almasih) tak ada seorang nabi pun (Bukhari). Allah menyebut saat itu sebagai masa fatrah atau kosong (kenabian) (5:19). Meski rentang waktunya 600 tahun disebut dekat, karena tak bicara calender age, tapi risa-lah age, tahun risalah. Alfatihah menjadi penggenap profetik, karena membimbing orang beriman untuk menempuh jalan lurus (shirâthal-mustaqîm) menuju Kerajaan Allah yang telah dinubuatkan oleh Almasih. Karena profetik ini Kitab Suci beliau disebut Injil artinya Kabar Baik atau Kabar Suka, sebab datangnya Kerajaan Sorga menjadi tema pokok kitab itu.
  • Tentang Alfatihah yang terdiri dari 7 ayat, profetiknya berbunyi sebagai berikut: “Dan aku melihat seorang malaikat lain yang kuat turun dari sorga, berselubung-kan awan, dan pelangi ada di atas kepalanya dan mukanya sama seperti matahari, dan kakinya bagaikan tiang api. Dalam tangannya ia memegang sebuah gulu-ngan kitab kecil yang terbuka. Ia menginjakkan kaki-nya di atas laut dan kaki kirinya di atas bumi, dan ia berseru dengan suara nyaring sama seperti singa yang mengaum. Dan sesudah ia berseru, ketujuh guruh itu memperdengarkan suaranya. Dan sesudah ketujuh guruh itu selesai berbicara, aku mau menuliskannya, tetapi aku mendengar suatu suara dari sorga berkata: “Materaikanlah apa yang dikatakan oleh ketujuh guruh itu dan janganlah engkau menuliskannya” (Why 10:1-4). Kitab kecil yang terbuka adalah identik dengan Alfatihah; sedang ketujuh guruh suara malaikat dari sorga yang dahsyat karena seperti singa mengaum adalah ketujuh ayat Alfatihah. Pada zaman Yesus memang telah turun dari sorga, tetapi masih berada di langit, belum turun ke bumi; masih ‘termeterai’ belum ditulis dengan huruf di muka bumi. Baru setelah Muhammad saw. diutus Alfatihah diwahyukan, lalu ditulis dan dibaca yang pembacaannya kekal abadi yang oleh Yesus dinyatakan sebagai guruh yang gema atau suaranya nyaring seperti singa yang mengaum.

Dari uraian di atas jelaslah bahwa Alquran bukan hanya ayat dan surat-suratnya saling berhubungan, tetapi juga mempunyai hubungan dengan kitab-kitab suci sebelumnya. Hubungannya, Alquran sebagai Mushaddiq artinya yang membenarkan atau menggenapi. Dari dua contoh di atas, berarti kitab suci terdahulu menubuatkan (kedatangan Alquran), sedang Alquran menggenapi atau memenuhi nubuat tersebut. Hubungan lainnya misalnya, Alquran sebagai Mubayyin artinya yang menjelaskan(yang samar-samar), Mufashshil artinya yang menjelaskan (secara rinci), Muhaimin artinya yang menjaga atau melestarikan (kebenaran universal yang diajarkan oleh para Nabi terdahulu), dan sebagainya.[]

  1. Leave a comment

tinggalkan komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: