Tanggapan atas pemberitaan di Suara Islam Online

Tulisan Shodiq Ramadhan bertajuk “Debat Majelis Mujahidin versus GAI” dalam Suara Islam Online, perlu saya beri catatan agar pembaca mendapat gambaran lebih utuh, karena tulisan Shodiq saya nilai tendensius.

Catatan saya adalah:

Pertama
Orasi singkat saya didasarkan atas dua ayat alQuran, yaitu An-Nur [24]:55 dan An-Nisa [4]:59. Ayat pertama mengandung petunjuk adanya persamaan antara umat Islam dengan Bani Israel, antara lain sama-sama dibangkitkan para khalifah, baik secara duniawi maupun ukhrawi. Hanya bedanya, khalifah ukhrawi Bani Israil disebut Nabi atau Rasul, sedang khalifah ukhrawi umat Islam disebut Mujaddid atau Imam. Persamaan lainnya adalah sama-sama dibangkitkan alMasih, yang kedatangannya telah dinubuatkan sebelumnya. AlMasih Israili adalah Isa bin Maryam, sedang AlMasih Islami adalah Hazrat Mirza Ghulam Ahmad. Antara keduanya terdapat persamaan, yakni adanya tiga perspektif umat terhadap diri beliau berdua, seperti terlukis dalam dekorasi diskusi ini: anak panah ke arah kanan, ke atas dan ke kiri.

Perspektif pertama diperagakan oleh kaum Yahudi di bawah pimpinan Hanas dan Kayafas, penentang keras Nabi Isa Almasih, pengakuan beliau sebagai “anak Allah” mereka pahami sebagai pengakuan ketuhanan, dengan demikian beliau mereka anggap menghujat Allah yang harus dihukum mati (Yohanes 10:31-38).

Perspektif kedua adalah pengikut sejati beliau, tokohnya antara lain Yusuf Arimatea yang dalam AlQuran disebut kaum Hawariyun. Mereka dikaruniai wahyu (5:111) dan mengimani beliau sebagai “anak Allah” secara majasi, yakni “yang mendamaikan orang” (Matius 5:9), mereka beriman akan kerasulan beliau serta mendakwahkan diri sebagai muslim (3:52).

Perspektif ketiga, mereka yang mempertuhan diri Almasih Isa bin Maryam (5:17, 72), mereka disebut orang Kristen/Nasrani (5:14; Kisah para rasul 11:25-26; 24:5). Namun hal ini muncul sekitar tahun 45 M, tokoh utamanya Paulus.

Ketiga perspektif terhadap diri Almasih Israili itu juga diperagakan oleh umat Islam terhadap HM Ghulam Ahmad, sebagai Masih Mau’ud. Kami, kaum Ahmadiyah Lahore, meyakini beliau sebagai Mujaddid dan Imam seperti halnya Imam Syafii, Imam Ghazali, dll.; bukan sebagai nabi, sebab kenabian telah berakhir pada diri nabi Muhammad saw (33:40), sesudah beliau tak ada nabi lagi, baik nabi lama ataupun nabi baru. Ketiga perspektif tersebut diisyaratkan dalam surat alFatihah: mun’im, maghdlub, dan dhallin.

Ayat kedua (4:59) dimana pun umat Islam berada haruslah taat kepada ulil amri minkum (yang memegang kekuasaan di antara kamu). Menurut HM Ghulam Ahmad ulil amri itu ada dua macam, secara duniawi dan secara ukhrawi, yang pada zaman pra Nabi Muhammad saw adalah para Nabi Utusan Allah dan pasca Nabi Muhammad saw adalah para Imam atau Mujaddid. HM Ghulam Ahmad adalah Mujaddid abad ke-14 H., beliau bukan nabi dan tak pernah mendakwahkan diri sebagai nabi; beliau meminta agar kata-kata nabi dalam tulisan dan buku-buku beliau dianggap tidak ada atau dihapus dan gantinya adalah muhaddats, permintaan ini disampaikan di hadapan ratusan orang di Masjid di kota Delhi.

Ulil amri minkum secara duniawi adalah penguasa dimana umat Islam berada, sekalipun di Inggris atau Rusia, tetapi ingat kalimat berikutnya menyatakan bahwa “jika kamu berselisih (dengan ulil-amri) kembalikanlah kepada Allah dan Rasul”. Sekali lagi saya ulang jika terjadi perselisihan kembalikanlah kepada Allah dan Rasul, yakni alQuran dan Sunnah/Hadits. Keduanya penyelamat jika beriman kepada Allah dan Hari Akhir. Ini yang paling baik dan paling tepat untuk (mencapai) penyelesaian.

Kedua
Orasi kedua, telaah kasus Ahmadiyah dalam perspektif liberal oleh Dr. Yusdani, M.Ag, lalu disusul orasi ketiga menurut perspektif MMI yang disampaikan oleh Ustadz Irfan S. Awwas. Uraiannya dibuka dengan doa mohon perlindungan Allah dari aliran sesat, pendapat sesat dan orang-orang tersesat. Isi orasinya hampir seluruhnya ditujukan kepada perspektif Ahmadiyah Qadiyan, bukan perspektif Ahmadiyah Lahore yang dihadirkan oleh Panitia Diskusi Publik. Dari orasi itu, orator tidak mau tahu realitas adanya dua ahmadiyah dan orientasi keagamaannya.

Ketiga
Setelah ketiga nara sumber menyampaikan orasinya, waktu diserahkan kepada peserta. Sesi I yang ajukan pertanyaan adalah Sdr Amran, Taufan dan Abdul-Qadir, lalu dijawab secara urut 1. S. Ali Yasir, 2. Yusdani, dan 3. Irfan S. Awwas. Pada sesi II, tiga penanya: Taufiq Hidayat, Aa’ dan Wathani.

Jawaban pertama diberikan oleh Irfan S.A., kedua diberikan oleh Yusdani dan ketiga diberikan oleh S. Ali Yasir. Pada waktu SA Yasir memberikan jawaban peserta itulah Irfan SA interupsi yang tak diizinkan, karena gilirannya telah lewat, akan tetapi dia nekat ngomong. Seharusnya saya tak menanggapi apa yang dia omongkan, tetapi demi hormat saya dan konsistensi saya pada ayat 11:118-119 dan Hadits, bahwa “perbedaan di antara umat Muhammad itu rahmat, sebab: beda pendapat itu kawah berpikir, beda akidah itu kawan dialog dan beda ibadah kawan istabaqal-khairat maka saya menanggapi pula pernyataannya yang antara lain Shadiq tulis pada halaman 2-3.

Dari perbuatan dan pernyataan-pernyataan tersebut jelaslah bahwa Irfan memaksakan kehendak. Akibatnya terjadilah debat kusir yang seharusnya tak terjadi di kampus Perguruan Tinggi Islam. Sebagai contoh:

  1. SKB Menteri ditujukan kepada JAI bukan kepada GAI, tetapi irfan memaksakan GAI mengamini, berarti ia tak melihat dan tak mendengar bahwa yang berdiri dan duduk serta berorasi adalah S. Ali Yasir, mewakili GAI yang tak ada hubungannya dengan JAI.
  2. Acara talkshow TV dengan juru bicara Zafrullah A. Pontoh, adalah perwakilan dari Jemaat Ahmadiyah Indonesia. Dalam hal ini, GAI no comment, GAI tidak punya kompetensi untuk menjawab.
  3. Irfan dibantu Shodiq R yang menulis seakan-akan kami berkeyakinan bahwa “dia (HMGA) menerima wahyu sebagaimana nabi isa…” adalah fitnah. Tak mungkin saya menyatakan seperti itu, sebab saya sadar akan kebenaran sabda Nabi Muhammad saw., bahwa “tidak tetap tinggal (wahyu) nubuwwat, kecuali mubasyarat” (Bukhari)
  4. Shadiq menulis tanggapan fitnah itu “Jika anda mempercayai Mirza menerima wahyu, sehingga dia mengklaim diri sebagai nabi…”. Yang saya garis bawahi tidak benar. Saat itu saya sempat bertanya apa bahasa Arabnya “orang yang mendapat naba? Tetapi Irfan tak menjawab, dan segera mengalihkan kepada hal lain.
  5. Tulisan Shadiq tentang jawaban atas pertanyaan kategorisasi dua Ahmadiyah “…istilah nabi yang dikaitkan dengan namanya” juga fitnah, sebab dalam buku-buku Ahmadiyah tak pernah ada kata-kata “Nabi Mirza Ghulam Ahmad”.
  6. Pernyataan Irfan: “Mirza Ghulam pernah ….” membingungkan peserta dan pembaca, karena Irfan tak memahami ajaran Ahmadiyah Lahore yang jelas menjunjung tinggi alQuran dan Sunnah Nabi. Doktrin Nasikh-Mansukh perlu diperdalam.
  7. Pernyataan saya terkait dengan Quran surat Ash-Shaff 61;6 tak terkait dengan pertanyaan Irfan, tetapi terkait dengan tafsir surat alFath 48:29 yang sambil lalu saya singgung dalam orasi. Dan fitnah jika ayat itu ditujukan kepada HM Ghulam Ahmad, sehingga Ahmad di situ adalah HMG Ahmad. Yang dituju adalah Nabi Muhammad saw. Saya persilahkan membaca tafsir kami, The Holy Quran (1917) yang telah diterjemahkan ke dalam belasan bahasa dunia. Pengaruh Tafsir ini diakui oleh HAMKA: “Adapun kaum Ahmadi dan usahanya melebarkan Islam di benua Eropa dan Amerika dengan dasar ajaran mereka faedahnya bagi Islam ada juga. Mereka menafsirkan Quran ke dalam bahasa-bahasa yang hidup di Eropa. Padahal di zaman 100 tahun yang telah lalu masih merata kepercayaan tidak boleh menafsirkan alQuran. Penafsiran alQuran dari kedua golongan Ahmadiyah itu membangkitkan minat lagi golongan yang mengingini kebangkitan Islam ajaran Muhammad kembali buat memperdalam selidiknya tentang Islam” (Pelajaran Agama Islam, 1956:199). Saudara Abu Bakar Ba’asyir, tatkala mengisi kaderisasi MMI di Kompleks Masjid PIRI Darussalam dalam kunjungan ketiga saya persilahkan singgah di rumah saya dan saya hadiahi sebuah tafsir tersebut dalam Bahasa Indonesia, dan pada kunjungan keempat berkenan menyampaikan Khotbah Jumat di Masjid tersebut. Ini terjadi pada tahun 1999.
  8. Tulisan HMG Ahmad dalam Mawahibur-Rahman dan Nurul-Haq, saya tangguhkan dulu, bukan “karena belum mengetahui kitab itu” sebagaimana Shadiq tulis, tetapi karena saya belum melihat konteksnya bagaimana. Dalam menjawab saya harus yakin karena ….
  9. Tafsir Ulil-amri dalam ayat 59 surat 4 An-Nisa’ perlu saya tegaskan kembali, karena tulisan Shodiq tendensius. Ulil amri mencakup penguasa duniawi dan penguasa rohani, yaitu para Mujaddid dan para imam, yakni ulama Islam yang seperti Nabi Bani Israil. Faktanya sekarang (sejak zaman HMG Ahmad) umat Islam tidak hanya tersebar di Timur Tengah dan Timur Jauh saja, tetapi telah tersebar di seluruh dunia, termasuk di negara-negara non Islam. Undang-undang di negara-negara itu banyak yang islamik atau qur’anik, bahkan di negara Islam banyak ayat undang-undang yang tidak Qur’anik. Di mana pun seorang Muslim Ahmadi berada harus taat kepada pemerintah setempat dengan syarat “tak ada ketaatan kepada makhluk dalam maksiat kepada pencipta (la tha’ata limakhluqin fi ma’shiyatil-khaliq). Maka dari itu jika terjadi tanazu (perselisihan) dengan pemerintah dan dengan siapa pun, yang dijunjung tinggi adalah alQuran dan Hadits Nabi. Implementasinya di Indonesia: setiap Ahmadi sebagai Muslim menjunjung tinggi alQuran dan Hadits, dan sebagai anak bangsa menjunjung tinggi Pancasila dan UUD 1945. Jika sikap ini menista Islam dan menyebabkan murtad, alias kafir, tunjukkan landasar ayat-ayat alQurannya dan juga haditsnya, serta UUD 1945.

Sdr. Irfan S. Awwas saya hadiahi al-Bayyinah: 10 Kriteria Sesat MUI dalam Perspektif Ahmadiyah Lahore. Saya menunggu tanggapannya.

  1. Leave a comment

tinggalkan komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: