Kaidah Tafsir alQur’an

“Dia ialah Yang menurunkan Kitab kepada engkau; sebagian ayat-ayatnya bersifat menentukan (mukhamat) – inilah landasan Kitab – dan yang lain bersifat ibarat (mutasyabihat). Adapun orang yang hatinya busuk, mereka mengikuti bagian yang bersifat ibarat, karena ingin menyesatkan dan ingin memberi  tafsiran (sendiri). Dan tak ada  yang tahu  tafsirnya selain Allah, dan orang yang  kuat sekali ilmunya, mereka  berkata: kami beriman kepadanya, semua ini adalah dari Tuhan kami. Dan tak ada yang mau berfikir, selain orang yang mempunyai akal.” (Q.S. 3:7).

Rapat Kerja Nasional Majelis Ulama Indonesia (Rakernas MUI) di Jakarta tgl 6 November 2007 memutuskan Sepuluh Kriteria Sesat. Seseorang atau segolongan orang dinyatakan sesat atau menyimpang dari jalan yang benar jika a.l. ”melakukan penafsiran Al-Qur’an  yang tidak berdasarkan kaidah-kaidah  tafsir.” Sayang kaidah-kaidah tafsir yang valid tak disebutkan, maka kriteria tersebut justru  membuat umat semakin bingung. Padahal  masalahnya amat signifikan dan urgen dalam memahami suatu ayat. Oleh karena itulah Pembaharuan Islam menurunkan artikel ”Kaidah Tafsir Al-Qur’an” yang valid. Validitasnya dapat diuji.

Jika diamati dengan teliti Al-Qur’an adalah satu-satunya Kitab  Suci yang hidup, karena bukan hanya memperkenalkan apa, siapa dan bagaimana dirinya, dari mana asalnya dan apa isinya saja, melainkan pula menjelaskan  tuntas bagaimana cara memahami atau menafsirkannya. Ternyata ada dua macam petunjuk, yang perlu dipedomani yaitu petunjuk tak langsung (indirect) dan petunjuk langsung (direct). Petunjuk tak langsung terdapat dalam struktur  isi Quran Suci, seperti dikemukakan oleh  R. Soedewo P.K. Quran Suci  terdiri dari tiga bagian, yaitu : (1) Ayat tunggal Bismillahhir-rahmanir-rahim, sebagai inti dari saripatinya Quran Suci, (2) Al-Fatihah, sebagai saripatinya  Quran Suci, dan (3) Quran Sucinya sendiri  yang terdiri dari 113 surat, yakni surat no. 2 Al-Baqarah (Sapi Betina) sampai No. 114 An-Nas (manusia). Sedang petunjuk langsungnya dinyatakan dalam ayat 3:7 di atas.

Petunjuk langsung

Ayat Suci tersebut mengandung petunjuk tentang kaidah menafsirkan  Quran Suci. Secara garis besar, seperti dikemukakan oleh  Maulana Muhammad Ali dalam tafsirnya The Holy Qur’an dan bukunya The Religion of Islam ada empat kaidah, yaitu:

Pertama, tentang macam-macam ayat. Berkenaan dengan tafsir menafsirkan ayat Quran  Suci dibedakan menjadi dua macam saja, yatu : (1) Muhkhamat, bersifat  menentukan, yakni ayat yang  artinya tak berubah dan tak berganti/ kata muhkamat berasal dari  kata hakama artinya mencegah, lalu dari kata ini digubah  menjadi ahkama artinya membuat sesuatu menjadi kuat atau stabil) sebagaimana diterangkan  dalam ayat 11:1 bahwa Quran Suci itu ”kitabun uhkimat ayatuhu (Kitab yang  ayat-ayatnya bersifat menentukan.” (2) Mutasyabihat, bersifat ibarat, yakni ayat  yang dapat ditafsirkan bermacam-macam, sebagaimana dinyatakan dalam ayat 39: 23 bahwa Quran Suci itu ”kitaban mutasyabikan matsani (sebuah Kitab  yang bagian-bagiannya berhubungan erat satu sama lain, yang perintahnya berkali-kali diulang). Kata mutasyabihat (dari kata syibh artinya menyerupai atau mirip) makna aslinya apa yang dalam beberapa bagian serupa atau mirip; oleh  sebab itu dapat ditafsirkan bermacam-macam.

Kedua, sumber tafsir. Menurut H.M. Ghulam Ahmad, rasihuna fil’ilmi (orang yang kuat ilmunya) pada zaman akhir  ini dalam bukunya Barakatud – Du’a sumber tafsir Quran Suci ada 7 macam, yaitu:

  1. Quran Suci itu sendiri. Tafsirul-qur’an bil-qur’an. Caranya : secara  tekstual, suatu hal  yang sama hanya disinggung dalam suatu ayat diuraikan panjang lebar  di ayat  yang lain. Secara kontekstual, baik  konteks sastranya  maupun sejarahnya. Dalam  konteks sastra lihat ayat-ayat sebelum dan sesudahnya, sedang  dalam konteks sejarahnya lihat budaya  setempat  dan asbabun-nuzulnya. Secara kontentual, lihat isi atau tema Suratnya dan jika perlu kepada induknya, Ummul-Kitab (Al-Fatihah).
  2. Hadits Nabi. Jika tak menemukan tafsir dalam Quran Suci carilah dalam Hadits Nabi, karena Nabi Suci adalah orang  yang menerima langsung dan yang paling tahu akan makna suatu ayat.
  3. Atsar sahabat. Penjelasan  para sahabat Nabi adalah sumber tafsir setelah Hadits, karena mereka yang telah  menghayati dan mendapat pendidikan langsung dari Nabi Suci bagaimana memahami dan mengamalkan ajaran Quran Suci.
  4. Hati nurani. Antara hati nurani murni pembicara dengan Quran Suci terdapat hubungan mistis yang luas biasa eratnya, karena seperti dinyatakan dalam ayat 30:30 Islam adalah fitraf Allah dan manusia diciptakan atas fitrah itu, maka Islam disebut agama fitrah.
  5. Bahasa Arab dengan kaidah-kaidahnya,  seperti kamus, nahu, sharf, manthiq, ma’ami, dll. Tetapi beliau menyatakan jangan terlalu terpukau di sini, karena Quran Suci memiliki cara tersendiri untuk memahaminya.
  6. Sunnatullah di alam kasar. Berulangkali Quran Suci menganjurkan  pembacanya agar memperhatikan sunnatullah di alam kasar, karena ada keselarasan dengan sunnatullah di alam rohani.
  7. Ilham, kasyaf (visiun) dan ru’ya orang Suci, para  mujaddid dan mujtahid. Mereka adalah muthahharun (orang-orang yang disucikan) yang dapat menyentuh.” Quran Suci (56:77-80).

Ketiga, dalam menafsirkan ayat mutasyabihat jangan sekali-kali bertentangan dengan ayat mukhamat, yang menurut ayat Suci di atas adalah ”landasan Kitab”. Maksudnya, pokok asasi agama atau kaidah-kaidah agama itu didasarkan atas ayat-ayat muhkamat. Jika didasarkan ayat mutasyabihat manusia tersesat dari jalan yang benar, misalnya doktrin Kristen tentang ketuhanan Isa Almasih (9:30).

Keempat, hal-hal yang zhanni (samar-samar) tak boleh  bertentangan dengan  yang qath’i (pasti). Demikian pula ayat-ayat  yang bersifat khusus, harus dihubungkan dan ditundukkan kepada ayat yang bersifat umum.

Kaidah tafsir tersebut adalah yang paling lengkap diantara kaidah tafsir yang ada, karena  mencakup  berbagai aspek  kehidupan  keagamaan umat  yang sifatnya akliah, ilmiah, sifiyah dan rohaniah selaras dengan fitrah seutuhnya.

Tafsir Khatamun-Nabiyyin

Uangkapan  Khatamun-Nabiyyin termaktub  dalam ayat 40 surat Al-Ahzab yang artinya sbb:

Muhammad bukanlah ayah  salah seorang dari orang laki-laki kamu, melainkan dia itu Utusan Allah dan segel (penutup) para Nabi. Dan Allah senantiasa Yang Mahatahu akan segala sesuatu.”

Para alim ulama Islam sepanjang zaman sepakat bahwa ungkapan tersebut menunjukkan keagungan, kemuliaan dan kesempurnaan Nabi Suci Muhammad saw. tetapi berbeda orientasinya. Secara garis besar ada tiga  pendapat saja, yaitu: penutup para Nabi (Muhammad saw. Nabi terakhir pengangkatannya, sebagaimana  dikemukakan oleh ulama ahli fikih dan kalam), meteri para Nabi Muhammad saw. Nabi pembawa syariat terakhir, sebagaimana  dianut  oleh para  ulama ahli tasawuf) dan segel (penutup) para Nabi  (Muhammad saw. adalah  yang menutup atau mengakhiri  jabatan  kenabian, sebagaimana dikemukakan oleh Maulana Muhammad Ali, sebagai penegasan pernyataan H.M. Ghulam Ahmad tentang kemutlakan berakhirnya kenabian pada diri Nabi Muhammad saw., karena sesudah beliau tak akan ada Nabi lama ataupun Nabi baru).

Adanya perbedaan tafsir berarti ayat tersebut adalah  mutasyabihat. Manakah  yang paling  mendekati kebenaran? Mari kita tinjau menurut kaidah tafsir seperti di atas.

Maksud ayat seutuhnya menjelaskan  masalah kebapaan, fatherhood (abuwwat) secara rinci, yakni kebapaan jasmani kebapaan rohani dan keabadian kebapakan rohani beliau, sebab sesudah beliau tak ada bapa rohani (Nabi) lagi; kullu rasulin abu ummatihi (setiap Rasul adalah bapa umatnya). Hal ini nampak jelas karena  kata khatam dapat dibaca khatim seperti yang tertulis dalam mushaf Warsy. Dan lebih  jelas lagi  jika dihubungkan dengan ayat-ayat  lain, misalnya :

  1. Ayat 5: 3 tentang kesempurnaan Agama Allah dalam  Islam.
  2. Ayat-ayat  tentang keterutusan  beliau untuk  segala bangsa (7:158; 251; 34: 28).
  3. Doktrin  beliau agar  beriman  kepada Wahyu Ilahi  dan para Nabi  terdahulu (2: 4, 136, 285).
  4. Kelengkapan  dan kesempurnaan akhlak  beliau sebagai suri  tauladan (68:4; 33:21;98:2-3).
  5. Penjagaan Ilahi  terhadap risalah  beliau (15:9;41:42; 56:57-58; 85:21-22). Oleh karena itu sesudah beliau tak tak diperlukan  datangnya seorang Nabi.

Konteks ayat dan sejarah pun mempertegas  kesimpulan tersebut. Mari kita lihat  ayat-ayat sebelumnya. Ayat 35 menjelaskan  kesamaan  derajat  rohani antara  pria dan  wanita. Ayat 36 menyinggung  saran Nabi Suci  agar Siti Zainab  dinikahkan dengan Zaid, anak  angkat  beliau. baik Zainab  maupun  saudaranya  sejatinya  enggan  kepada pernikahan  itu, karena  Zaid bekas  budak  yang dimerdekakan. Ayat ini menundukkan keengganan mereka  itu.  Ayat 37 terdiri dari dua  bagian  yang terpisah, yaitu perceraian  Zaid dengan Zainab  dan perkawinan Nabi Suci dengan Zainab  atas restu Allah. Menurut ayat 38 hal ini bukan suatu cacat bagi Nabi Suci. Selanjutnya ayat 39  menegaskan bahwa ketakutan Nabi Suci hanyalah  kepada Allah saja.

Yang ditakutkan oleh Nabi Suci dari sesama manusia adalah tuduhan keji kaum kafir dan munafik bahwa Nabi Suci menikahi menantunya sendiri. Tuduhan  yang terus berlangsung  sampai sekarang ini muncul karena menurut budaya jahiliah  kedudukan  anak angkat  sama dengan  anak kandung.  Tuduhan  berlatarbelakang  budaya jahiliyah inilah yang menjadi asbabun nuzul ayat 40. Dengan penegasan ”Muhammad bukanlah ayah salah seorang dari orang-orang lelaki kamu” berarti Zaid bukan  anak Nabi Suci, tetapi anak Haritsah. Jelasnya, kedudukan anak angkat menurut syariat Islam tidak sama dengan anak kandung. Dengan demikian  beliau tidak menikahi menantunya sendiri.

Disamping itu, penegasan tersebut mengandung petunjuk bahwa silsilah jasmani Muhammad saw. terputus, sebab anak-anak beliau wafat tatkala masih kanak-kanak. Maka dari itu orang-orang kafir menyebut  beliau  abtar, terputus keturunanya. Tetapi menurut 108:3 yang abtar adalah kaum kafir. Kedua ayat ini tak bertentangan, karena kaum kafir  hanya melihat  yang bersifat jasmani saja, sedang  Quran Suci  melihat  yang jasmani dan rohani, tetapi lebih menekankan  yang rohani daripada yang jasmani, maka Quran Suci tetap menganjurkan  ”panggilah mereka dengan nama ayat (kandung) mereka” (33:5) tetapi Nabi (bapa rohani) itu lebih  dekat pada kaum mukmin daripada diri mereka sendiri, dan istri-istrinya adalah sebagai ibu mereka” (33:6).

Secara jasmani silsilah Muhammad saw, terputus, seakan-akan  suatu cacat, tetapi secara rohani berlangsung terus, tak berkesudahan, sebab sesudah beliau tak ada Nabi (bapa rohani) lagi, Sebaliknya, kaum kafir  penentang beliau benar-benar  terputus, karena sekolah Fathul-Makkah anak-anak mereka, bahkan diri mereka  sendiri menjadi anak-anak  rohani Muhammad saw. karena dengan penuh kesadaran tanpa paksaan mereka masuk Islam.

Selanjutnya tafsir  dari Hadits Nabi Suci yang pernah menyatakan bahwa ”para Nabi  itu bersaudara” (H.r. Bukhari) bersabda pula bahwa ”la nabiyya ba’di, tak ada Nabi Sesudahku”. (H.r. Bukhari), karena ”ana al’aqib, aku adalah  yang penghabisan” (H.r. Bukhari). Tentang ”Nabiyyullah Isa yang akan datang” (H.r. Muslim) beliau  jelaskan  bahwa dia  adalah ”immamukum  minkum, imam kamu dari kamu” (H.r. Bukhari), bukan Nabi, hanya sebagai Khalifah beliau. Para sahabat pun  berpendapat  seperti beliau. Penjelasan mereka diamini oleh pembaca Quran Suci yang berhati nurani Suci.

Secara linguistik  kata khatam dapat dibaca khatim yang makna aslinya adalah penutup  para Nabi,  tetapi jika dibaca khatam artinya segel para Nabi, makna ini lebih dalam daripada kata penutup para Nabi. Karena kata khatam mengandung  arti penutup yang digabung dengan kesempurnaan wahyu kenabian bersamaan pula  dengan kelestarian  penganugerahan  sebagian wahyu kenabian di kalangan pengikut beliau. Selaras dengan sunnatullah  di alam kasar sebagai  Kitabul-Kabir dimana Allah berkenan mengaruniakan ilmu kepada orang-orang tertentu dari berbagai agama (29: 49) sehingga mereka mampu ”menyaksikan ” Tuhan Yang Esa (3: 18), demikian pula di alam rohani Allah berkenan pula  melimpahkan ilham, kasyaf (visiun) dan ru’ya kepada rasihuna fil ’ilm (3:7) tentang makna suatu ayat dalam Quran Suci sebagai Kitabush-Shaghir.

Dengan metode tersebut Quran Suci benar-benar sebagai ”Kitabun ukhimat ayatuhu (11:1), karena yang mutasyabihat tak bertentangan  yang  mukhanat, dan sekaligus sebagai Kitaban mutasyabihan matsani” (39:23), karena yang zhanni tunduk kepada yang qath’i dan yang khusus tunduk kepada yang umum. Akhirnya nampaklah kemukjizatan Quran Suci.[]

 

  1. Leave a comment

tinggalkan komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: