PENYALIBAN ISA BIN MARYAM

“Dan karena ucapan mereka: ‘Sesungguhnya kami telah membunuh Almasih Isa bin Maryam Utusan Allah:’ mereka tak membunuh dia dan tak menyalib dia (sampai mati), melainkan ditampakkan kepada mereka seperti demikia. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih  tentang itu, mereka dalam kebimbangan tentang itu. Mereka tak mempunyai pengetahuan tentang itu, selain hanya mengikuti dugaan; dan mereka tak membunuh dia dengan yakin; tidak! Allah mengangkat dia ke hadapan-Nya.” (Q.S. 4:157-158).

Dua pendapat

Ayat suci  tersebut mengungkap isi hati umat manusia yang terkait dengan peristiwa penyaliban Almasih Isa bin Maryam pada hari Jumat 7 April 30 Masehi. Atas dasar ayat suci tersebut seluruh umat Islam sepanjang zaman sependapat, bahwa Nabiyullah Isa bin Maryam tak dibunuh dan tidak pula disalib. Dengan demikian ucapan  Yahudi dibantah. Hanya orientasi bantahan “tak disalib” pendapat alim ulama Islam terbelah menjadi  dua pendapat, yaitu:

Pertama, berpendapat bahwa yang disalib  adalah Yudas Iskariot, seorang murid beliau yang khianat, setelah diserupakan dengan Nabiyullah Isa, dan  Nabi Isa sedniri tak terjamah oleh tangan mereka, karena beliau    diangkat Tuhan ke langit, sebagaimana tercermin dalam terjemahan  ayat bantahan terhadap ucapan kaum Yahudi: “dan karena  ucapan mereka : ”Sesungguhnya kami telah membunuh  Almasih Isa bin Maryam Rasul Allah,” padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) Isa, benar-benar dalam keraguan yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh adalah Isa, tetapi (yang sebenarnya) Allah telah  mengangkat Isa kepada-Nya” (4:157-158).

Jadi yang mereka  tangkap  di Taman Getsmani pada hari Kamis malam Jumat tgl. 6 April 30 Masehi adalah Yudas Iskariot, demikian pula yang mereka sidang  di Sanhedrin lalu keesokan harinya diadili oleh Pontius Pilatus. Yudas Iskariotlah yang  dicaci maki dan memanggul salib dari Petrorium Romawi sampai bukit Golgota; akhirnya  disalibkan  setelah dimahkotai duri. Isa Almasih (Yesus Kristus)  sama sekali tak terjamah  oleh tangan-tangan kotor kaum kafir Yahudi dan Romawi, karena beliau diangkat Tuhan ke langit, dan tetap tinggal di sana  sampai sekarang, nanti di akhir zaman turun ke bumi menjadi hakim yang adil, sebagaimana keimanan Kristen (Pengakuan Iman Rasuli pasal ke-5,6 dan 7).

Kedua, berpendapat  bahwa yang mereka tangkap di Taman Getsmani  memang Isa Almasih, bukan Yudas Iskariot. Beliau juga yang disidang oleh para ulama Yahudi di Sanhedrin, kemudian  diadili oleh Pontius Pilatus, akhirnya  diarak  di sepanjang  jalan penderitaan  (via dolorosa) dengan caci maki, hinaan dan penganiayaan. Setibanya di Bukit Golgota disalibkan bersama dua penjahat.

 

Arti penyaliban (shalb)

Untuk memahami masalah teologis krusial ini terlebih dahulu perlu memahami apa arti kata “penyaliban (shalb)”. Menurut Kamus Lisanul-‘Arab dan Tajul –‘Arusshalb adalah  cara membunuh yang sudah terkenal” sehingga kata “shalabahu artinya membunuh dia dengan cara yang sudah terkenal.” (Lane –Lexicon). Kamus Besar Bahasa Indonesia menjelaskan menyalib artinya menghukum mati pada kayu salib (tangan dan kaki orang yang dihukum itu direntangkan dan diikat atau dipaku pada kayu salib).

Dari empat kamus itu terang sekali bahwa kata shalb atau penyaliban adalah cara membunuh atau menghukum mati pada  kayu salib. Jadi kalau hanya direntangkan kedua tangan dan kaki dipakukan pada tiang salib, tetapi tidak sampai mati-hanya  seperti mati saja – namanya bukan disalib. Dengan demikian kalimat ma shalalabuhu dalam ayat 4:157 itu tak sekali-kali mendustakan dipakukannya Isa Almasih  pada tiang salib, tetapi hanya  mendustkana wafatnya Nabi Isa Almasih pada tiang salib sebagai akibat penyaliban. Jadi kalimat itu membantah ucapan  kaum Yahudi dan sekaligus mendustkan dogma sentral Gereja Kristen, pengakuan Iman Rasuli pasal ke-4 kematian Yesus Kristus disalib. Arti ini selaras dengan  fungsi Qur’an Suci sebagai Mushaddiq (dalam arti membenarkan  atau mengoreksi) terhadap Kitab-kitab Suci atau agama terdahulu.

Jika Yudas Iskariot  yang disalib  secara linguistik  tak dibenarkan, karena Yudas tak disebut-sebut dalam ayat itu, maka dari itu dhamir (kata ganti) hu pada kalimat ma shalabuhu harus kembali kepada Almasih Isa bin Maryam Rasul Allah yang disebutkan dalam permulaan ayat. Disamping itu secara teologis ayat suci tersebut tak ada fungsinya sebab  tak membantah dogma  sentral Gereja Kristen, yang dogma itu menjadi landasan alasan utama ketuhanan Yesus Kristus.

 

Kesaksian sejarah

Berbagai pihak yang dilukiskan dalam ayat penyaliban itu secara garis besar ada tiga golongan, yaitu: (1) kaum Yahudi dipelopori oleh ahli-ahli Taurat dan iman-iman kepala beserta umatnya; (2) Pontius Pilatus dan lasykarnya beserta rakyatnya, dan (3) Nabi Isa Almasih dan pengikutnya, yang terdiri dari dua golongan yakni yang terlibat langsung dalam penurunan Yesus lalu mengafaninya, setelah diobati  lalu menguburkannya, a.l. Yusuf Arimatea, Nikodemus, ibunda beliau Maria, isteri beliau Maria Magdalena dan Maria yang lain; dan golongan yang hanya jadi penonton, mereka menyaksikan dari jauh.

Semua pihak  sampai hari Jumat malam Sabtu, tgl. 17 April 30M sepakat bahwa yang ditangkap di Taman Getsmani, lalu di sidang  di Sanhedrin, kemudian diadili oleh Pontius Pilatus akhirnya  disalibkan di Bukit Golgota adalah Isa Almasih (Yesus Kristus),  tak ada seorang pun  yang meragukannya. Tentang kematian beliau di tiang salib  sebagai akibat  penyaliban itu yang kontroversial. Kaum Yahudi mengatakan bahwa upaya mereka berhasil, Isa Almasih telah mereka bunuh, meski  tanpa ilmu, buktinya  mereka tak mampu membedakan serupa  mati dengan mati sesunggguhnya. Pontius Pilatus yang cenderung  membebaskan beliau karena tak menemukan kesalahan yang mereka tuduhkan – dan lasykarnya  meragukan kematian beliau, karena  prosesnya  terlalu cepat, baru  sekitar tiga jam saja. Para  murid yang terlibat  langsung  dalam perawatan  diri Yesus pasca penyaliban  beranggapan  seperti kaum Yahudi, tetapi mereka  yang terlibat langsung haqqul –yaqin bahwa  syubhiha lahum, beliau hanya diserupakan telah mati bagi mereka, alias hayat masih dikandung badan, beliau hanya mati suri atau koma berat saja.

Sampai hari Sabtu tgl. 8 April 30M. Semua pihak sepakat bahwa yang dikuburkan di Makam Kudus milik Yusuf Arimatea adalah Yesus Kristus, bukan orang lain. Yang meragukan kaum Yahudi adalah kematian beliau, karena mereka teringat nubuat yang beliau sampaikan  tentang kebangkitannya pada hari ketiga. Maka mereka minta kepada Pontius Pilatus agar pintu Makan dimeterai dan dijaga oleh lasykar. Permintaan mereka  dikabulkan oleh Pontius Pilatus. Jadi mereka tak meragukan siapa yang tergantung di tiang salib.

 

Munculnya kontroversi penyaliban

Oleh karena  Isa Almasih (Yesus Kristus) tatkala diturunkan dari tiang salib  hanya serupa telah mati saja, alias hayat masih dikandung badan, maka wajar  jika beliau bangkit  dari kubur pada hari ketiga dini Ahad tgl 9 April 30M dengan meninggalkan  ikat kepala dan kain kafannya. Beliau menyelamatkan diri  dengan menyamar sebagai tukang kebun, lalu pergi ke berbagai tempat di sekitar  Yerusalem secara sembunyi-sembunyi agar  tak diketahui dan dikenali oleh kaum Yahudi untuk menemui murid-muridnya. Yang melindungi  dan memfasilitasi beliau adalah para murid yang sejak awal telah berkorban membantu beliau di jalan Allah, yang dalam Qur’an Suci mereka menyatakan sebagai Ansharullah, yakni kaum Hawariyin (61:14).

Sejak hari ketiga itulah tersiar kabar, bahwa Isa Almasih bangkit dari kubur, lalu dikembalikan menjadi hidup kembali di muka bumi ini. Berita ini didustakan oleh kaum Yahudi. Mahkamah Agama Yahudi mengarang cerita, bahwa para murid beliau pada malam hari  datang mencari  ”jenazah” beliau tatkala para penjaga sedang tidur. Cerita ini yang  tersiar  diantara orang Yahudi sampai sekarang.

Lain lagi ceritanya menurut para murid beliau yang hanya  melihat  beliau dari jauh. Mereka yang mengatakan Yesus mati  di tiang salib setelah berseru, Eli, Eli, lama sabakhtani?” Dari  mereka inilah Paulus dan kawan-kawan  mendapatkan berita tentang penyaliban Yesus. Tatkala penulisan berita itu marak pada akhir abad pertama Masehi muncullah berbagai macam cerita  dimasyarakat, antara lain menceritakan bahwa yang disalib adalah  Yudas Iskariot, seperti yang ditulis oleh  ”Barnabas.” yang lain menyatakan  bahwa yang disalib bukan Yesus dan bukan pula Yudas Iskariot, tetapi Simon Kirene yang lain lagi berpendapat bahwa yang disalib adalah seseorang yang tak diketahui namanya, sebagaimana dikemukakan oleh para teolog Kristen, misalnya Dr. H. Hadiwijono dalam bukunya Iman Kristen, hlm. 240. Pendapat ini terus berkembang sampai zaman Nabi Suci Muhammad saw., bahkan sampai sekarang. Quran Suci tak menanggapi cerita ini, karena tak terkait dengan dogma Gereja Kristen yang harus diluruskan.

 

Rencana manusia dan rencana Allah

Penyaliban Almasih Isa bin Maryam merupakan realisasi rencana manusia dan rencana Allah sebaik-baik Perencana (3: 54). Rencana kaum Yahudi membunuh beliau dengan cara menyalib tujuannya membuktikan  kehinaan beliu sebagai orang terkutuk – sesuai dengan hukum Taurat (Ul 21:22-23) – karena beliau mendakwakan diri sebagai Mesias (Almasih) dan Anak Allah, yang dakwa ini mereka anggap sebagai penghujatan terhadap Allah (Mrk 14:53-65, Yoh 10:31-36). Menurut hukum Taurat seorang penghujat Allah harus dihukum mati dan dilempari batu, baik orang asing maupun orang Israel (Im 24:16).

Sedang rencana Allah adalah (1) mematikan beliau secara wajar, tidak disalib, (2) mengangkat beliau, yakni meninggikan dan memuliakan derajat beliau dengan cara tidak mematikan beliau di tiang salib sebagai akibat penyaliban, (3) membersih diri beliau dari orang-orang kafir yang menuduh beliau sebagai Mesias palsu dan penghujat Allah, dan (4) membuat para pengikut beliau di atas kaum kafir Yahudi sampai hari Kiamat (3: 55). Rencana Ilahi tersebut disampaikan kepada beliau tatkala keadaan telah sedemikian gawatnya menjelasng eksekusi penyaliban.

Setelah beliau tergantung di tiang salib yang menurut akal sehat beliau tak mungkin terhindar dari kematian terkutuk, beliau berseru: ”Eli, Eli, lama sabakhtani?” artinya ”Tuhanku, Tuhanku, mengapa Engkau meninggalkan aku?” (Mat 27 :46) datanglah pemenuhan ketiga janji Tuhan tersebut, karena setelah ”Yesus berseru dengan suara nyaring itu lalu menyerahan nyawaNya” (Mat 27 : 50). Menyerahkan nyawa identik dengan mati, yakni fungsi otak (cerebral) terhenti seluruhnya dan tidak bisa dikembalikan lagi, maka Kitab Suci mengajarkan bahwa orang yang telah mati tak akan kembali hidup ke dunia lagi (21:95; 23: 99-100; lih Ay 67:9-10, 2 sam 12:21-22)

Sebenarnya yang terjadi hanyalah ”syubbiha lahum” artinya ”beliau disamarkan, diserupakan seperti telah mati menurut penglihatan mereka” (4;157). Peristiwa itu terjadi tatkala kaum Yahudi sedang euphoria dalam kesuksesan  telah berhasil menangkap Isa Almasih di Taman Getsmani, menyidang  beliau di Sanhedrin dan mengadili beliau di Pengadilan Romawi lalu merentangkan kedua tangan dan kaki beliau  pada kayu salib di Bukit Golgota, maka mereka mengatakan  dengan penuh  kesombongan: ”Sesungguhnya kami telah membunuh Almasih Isa bin Maryam, Utusan Allah” yang ucapan ini dibantah  Ilahi ”mereka  tidak membunuh dia dan tidak  pula menyalibkan dia” lalu dijelaskan ”tetapi dia ditampakkan kepada mereka seperti telah mati” (4:157).

Peristiwa ini yang terjadi sampai hari Jumat malam Sabtu, tgl. 7 April 30 M. Hari berikutnya mulailah ”orang-orang berselisih tentang kematian beliau, mereka berada  dalam kebimbangan tentang beliau. Mereka tak mempunyai pengetahuaan  tentang  kematian beliau itu, selain hanya mengikuti dugaan; mereka  tak membunuh beliau dengan yakin” (4:157). Penyaliban Almasih Isa bin Maryam  gagal total. Maka dari itu semua doktrin yag terkait dengan kematian beliau  hanyalah amani atau lamunan (2:78) yang kini telah saatnya untuk diungkap demi iman dan hormat kita kepada Almasih Isa bin Maryam Utusan Allah.[]

  1. #1 by Rangga saputra gokil abiz on 23/03/2014 - 9:51 am

    Sighs

  2. #2 by Rangga saputra gokil abiz on 23/03/2014 - 9:54 am

    Semuga yg membuat tex di atas’ mendapatkan hidayah yg berlimpah dgn karunia allah subhanallahu’wata’alla..amin

  3. #3 by resodimedjo on 22/10/2014 - 2:52 am

    Apakah Quran sudah benar2 meluruskan atau menambah kacau
    Catat: pendapat ulama saja bisa terpecah manjadi 2
    Itu artinya Quran tidak jelas sehingga dapat ditafsirkan berbeda2
    Pikirkan baik2 saudara

    Penulis sama sekali tidak menguasai keseluruhan Alkitab
    Polemik penyaliban Yesus tidak saja berkutat pada proses tetapi lebih luas lagi pada pra salib dan pasca salib banyak sekali keterangan baik nubuat maupun kesaksian bahwa Yesus akan mati di salib

tinggalkan komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: