DOA YANG MENGHIDUPKAN

”Bacalah dengan nama Tuhan dikau yang menciptakan, Yang menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhan dikau adalah Yang paling murah hati, Yang mengajarkan (menulis kepada manusia) dengan pena, Yang mengajarkan kepada manusia apa yang ia tak tahu” (96:1-5)

“Setiap perbuatan baik yang tak dimulai dengan Basmalah akan terputus berkahnya”(Al-Hadits)

Doa Paling Mustajab

Membaca dengan nama Tuhan aplikasinya mengucapkan “bismillahir – rahmanir rahim” artinya dengan nama Allah Yang Maha – pengasih, Yang Maha-penyayang”. Kalimat ini merupakan ayat tunggal dalam Al-Qur’an yang tertulis 114 kali dalam Al-Qur’an, dengan rincian 113 tertulis dalam permulaan surat, kecuali surat no. 9 “Al-Bara’ah” atau “At-Taubah”, tetapi kalimat ini tertulis dalam ayat ke – 30 surat 27 “An-Naml”.

Kata depan bi dalam bahasa Arab multi arti, dalam kalimat ini bismillah yang biasa diartikan  dengan nama Allah dapat pula diartikan atas pertolongan  Allah. Abu Abdillah Hayyan Al-Andalusi dalam tafsirnya Bahrul- Muhith kalimat itu  diartikan “Aku mohon pertolongan Allah, Yang Maha –pengasih, Yang Maha-penyayang”. Jadi Basmalah merupakan doa dan doa yang paling mustajab, bahkan doa mukjizati bersifat mukjizat. Oleh karena itu, Rasulullah saw. memperingatkan bahwa setiap perbuatan baik yang tak dimulai dengan Basmalah akan terputus (berkahnya).”

 

Nama Diri Tuhan Yang Maha Esa

Keesaan Tuhan bukan hanya berkenaan dengan Dzat atau EsensiNya, Sifat-sifat-Nya dan Af’al  atau Karya-Nya saja, melainkan pula berkenaan dengan Nama-Nya, Allah. Kata “Allah” adalah Esa, sebab:

Pertama, dari segi penggunaan dan makna kata Allah adalah Ismu-Dzat Tuhan, oleh karena itu tak pernah digunakan untuk menamakan sesuatupun selain Suatu Dzat Yang Maujud dengan sendirinya atau Dzat Yang Wajib adanya (Wajibul-Wujud), Yang berdiri dengan sendirinya (Qiyamuhu binafsih), Yang berbeda dengan segala apa yang baru  (Mukhalafatuhu lil- hawadits) dan Ismu A’zham,  Nama Yang Agung, yakni nama Yang mencakup segala sifat keagungan, kesempurnaan.

Kedua, kata Allah adalah jamid, bukan isim musytaq, karena tak digubah  dari kata lain, sebagaimana nama-nama yang lain. Kata Allah bukan berasal dari  kata ilah yang berasal dari akar kata aliha artinya tahayyara atau ta’ajub, atau digubah dari kata  wilah dari akar kata waliha, artinya tergila-gila. Ilah artinya dewa, pujaan, tuhan atau sesembahan. Ini pendapat  pertama. Pendapat lain  menyatakan  bahwa  kata Allah adalah berasal dari kata ilah mendapat awalan  al, sehingga menjadi al-ilah (berbentuk ma’rifat atau difinite, karena kedua huruf tersebut sama dengan “the” dalam bahasa Inggris.

Diantara dua pendapat tersebut yang lebih mendekati kebenaran adalah  yang pertama, yakni Al pada kata Allah bukanlah awalan (artikel), buktinya

(1) Bentuk kalimat “ya, Allah” adalah benar. Seandainya “al” pada Allah adalah artikel, seharusnya kalimat itu berbunyi “Ya lah” (al-nya hilang), sebagaimana kata ar-Rahman dan ar-Rahim jika didahului kata seru “Ya” maka al-nya hilang, menjadi Ya Rahman dan Ya Rahim, bukan Ya Ar-Rahman dan Ya Ar-Rahim.

(2)  Kata Ilah jika mendapat artikel “al” menjadi al-ilah, bukan al-lah. Jika huruf “i” ditiadakan memang  huruf Arab sangat berbeda dengan Allah. Allah terdiri dari huruf-huruf Alif, Lam, Lam dan  Ha’; huruf Lam pertama bersyakl tasydid, sedangkan pada kata al-ilah terdiri dari huruf: Alif, Lam, Lam, Ha’; huruf Lam pertama bersyakl saktah dan Lam kedua  tanpa tasydid. Jika Lam kedua ditasydid, huruf Lam pertama harus ditiadakan, menjadi     , huruf pokoknya Alif, Lam dan Ha’.

(3) Dari segi lafazh kata Allah nampak keistimewaannya jika dihapus huruf-hurufnya: Jika dihapus huruf awalnya menjadi Lillah artinya bagi/ milik Allah, jika diihapus awalnya kata lillah menjadi lahu artinya bagi-Nya; selanjutnya dihapus huruf awal  lahu menjadi hu artinya Dia (menunjuk Allah).

(4) Kata ilah adalah bentuk mufrad, karena itu mengenal bentuk tatsniyah, yaitu ilahaini artinya dua tuhan, sebagaimana terdapat dalam ayat  5: 116. Kata ilah juga mengenal bentuk jamak, yaitu Alihah artinya banyak tuhan, sebagaimana terdapat  dalam ayat 6:19. Perubahan bentuk semacam ini tak terjadi pada kata Allah.

Ketiga,  dalam bahasa manapun, tak ada kata yang semakna dengan kata Allah yang mengandung segala sifat kesempurnaan, tanpa cacat. Bangsa Arab pun tak pernah  menamakan salah satu berhala mereka dengan nama  Allah. Nama yang mereka gunakan ialah al-Lata dan al-Uzza serta Manat. Kata God (Inggris) identik dengan god artinya dewa, maka ada goddess artinya dewi, sesuatu yang sangat dipuja-puja; selaras dengan kata ilah dalam bahasa Arab, karena selain Allah dapat saja diper-ilah, dipertuhan atau dipertuan. Misalnya Siti Maryam, malaikat (Roh Kudus), hawa nafsu, dan lain-lain.

Dua Sifat Utama

Nama ar-Rahman (Yang Maha-pengasih) dan ar-Rahim (Yang Maha-penyayang) berasal dari akar kata yang sama, yaitu rahima-yarhamu-rahmat. Rahmat artinya riqqatun taqtadil-ihsan ilal-marhum, yakni kelembutan hati atau kasih sayang yang diikuti dengan perbuatan baik kepada yang dirahmati. Rahman Allah meliputi segala sesuatu , warahmati wasi’at kulla syai’ (Q.S. 7: 156). Kata rahman digubah mengikuti wazan fa’lan, menunjukkan melimpah-limpahnya rahmat Allah dalam tingkatan  setinggi-tingginya, maka ar-Rahman artinya Yang Maha-pengasih, yakni yang mencukupi segala kebutuhan makhluk, baik kebutuhan jasmani maupun kebutuhan rohani, yang  kebutuhan itu telah disediakan sebelum  ciptaan –Nya ada, yang disediakan secara cuma-cuma bukan karena permohonan dan bukan pula karena balas jasa.

Sedangkan  kata rahim digubah mengikuti  wazan fa’il, menunjukkan berulang-ulangnya rahmat itu, sifatnya dawam (langgeng), maka ar-Rahim artinya Yang Maha-penyayang, yakni Yang membalas perbuatan baik yang tak seberapa dengan balasan yanga berlipat ganda. Jadi tak ada perbuatan baik  manusia yang sia-sia tak diganjar.

Rasulullah saw. menjelaskan  kedua Sifat Ilahi itu sbb : “Ar-Rahmanu rahmanud-dunya war-Rahimu rahimul-akhirah” artinya  “Ar-Rahman ialah Tuhan Yang Maha-pengasih, yang kasih sayangNya diwujudkan dalam perbuatan menciptakan Yang Maha-penyayang, yang kasih sayang-Nya diwujudkan dalam keadaan  yang akhir (datang kemudian), yaitu dalam akibat proses yang berlangsung dan perlakuan-Nya terhadap manusia”.

Perbedaan antara kata rahman dan rahim adalah sebagai berikut: Kata rahman  mengandung arti bahwa cinta kasih Allah begitu melimpah dan tingginya, sehingga Allah menganugerahkan rahmat dan kasih-sayangNya kepada umat manusia, sekalipun mereka tak berbuat sesuatu yang menyebabkan mereka pantas memperoleh rahmat. Pemberian segala kebutuhan hidup untuk memperkembangkan jasmani mereka berupa alam semesta, dan pemberian wahyu untuk mempertumbuhkan ruhani mereka, ini semata-mata berkat adanya  kasih sayang Ilahi yang melimpah tak terbatas tanpa campur tangan manusia.

Kemudian menyusul  suatu tingkatan, dimana manusia memanfaatkan  bahan-bahan pemberian Allah dan digunakan  untuk memperkembangkan jasmani dan ruhaninya. Pada tingkatan ini muncullah sifat rahim, yang melalui sifat ini Allah mengganjar tiap-tiap perbuatan  baik dan benar yang dilakukan oleh manusia; dan selama manusia tak henti-hentinya melakukan itu, maka kasih sayang Allah yang dinyatakan dengan sifat Rahim akan terus melimpah. Sifat rahimiyah ini  terus bekerja dalam perkembangan jasmani dan ruhani.

 

Sumber Kemuliaan Hakiki

Seseorang  yang menyadari benar bahwa segala kebutuhannya telah disediakan secara cuma-cuma dan berada di sekitar dirinya tentu ia berterima kasih dan selalu memuji Allah sebagai Ar-Rahman. Memuji dan terus memuji Dia, karena ia sadar bahwa segala kebutuhannya, baik kebutuhan jasmani maupun rohani telah disediakan oleh-Nya, yang tak disediakan dan tak dipenuhi Ilahi adalah keinginan dirinya tahwal-anfus (Q.S. 53: 23) sumber segala keserakahan dan keangkuhan.

Memuji sesuatu atau seseorang, apalagi memuji Tuhan tentu menggunakan tutur kata yang lemah lembut dan sikap yang santun jauh dari kata-kata kotor dan sikap kasar. Cepat atau lambat ia akan dipuji, sebab Allah adalah Ar-Rahim.

Kata kerja (verb) “memuji” bahasa Arabnya ahmad, sedang kata sifat (adjective) “terpuji” bahasa Arabnya muhammad. Kata Ahmad dan Muhammad adalah nama Nabiyullah terakhir. Kesemuanya tersebut dalam Al-Qur’an dan Hadits, bahkan tersebut dalam kitab-kitab Suci para Nabi terdahulu, seperti Taurat dan Injil (Q.S. 7: 157).

Nama “Ahmad” mengandung sifat jamali, yakni sifat keindahan, keelokan dan kehalusan budi; sedang nama “Muhammad” mengandung sifat jalali, yakni sifat kebesaran, kemenangan dan kemuliaan. Nama Ahmad dengan sifat jamalinya seperti  yang diperagakan  oleh Nabi  Isa Almasih beliau  jabarkan dalam periode Mekah selama tiga  tiga belas tahun,  yang diwarnai dengan penderitaan, kesulitan dan kesusahan; sedang  nama Muhammad dengan sifat jamalinya seperti diperagakan  Nabi Musa beliau jabarkan  dalam periode Madinah selama hampir sepuluh tahun yang diwarnai dengan kemenangan, kekuasaan dan kemakmuran.

Kesimpulannya, kalimat Basmalah adalah doa yang menghidupkan “will to action” kemauan berbuat, sehingga seorang Muslim yang sejatinya adalah “a man of action” manusia ahli perbuatan dengan mengucapkan doa bismillahir-rahmanir-rahim selalu menggunakan power of action sebaik-baiknya, karena will to action-nya selalu berkobar dalam dirinya. Jadi Basmalah merupakan doa mukjizati, karena  menghidupkan will to action dan memperbesar power of action sumber kemuliaan hakiki seseorang, baik di dunia maupun di akhirat.

Sejarah menjadi saksi, tatkala umat Islam memahami dan mengamalkan doa itu dalam kehidupan sehari-hari, mereka menjadi ”sebaik-baik umat (khaira ummatin) yang ditampilkan sebagai cerminan bagi manusia (ukhrijat linnas) dalam hal amar ma’ruf nahi munkar dan beriman kepada Allah (3:110), sebagaimana diperagakan pada zaman Nabi Suci sampai tiga abad berikutnya. Akan tetapi  setelah mereka secara berangsur-angsur  melalaikan dia itu, karena hanya dijadikan ritual, secara berangsur-angsur pula mereka mengalami kemunduran. Kini telah tiba waktunya bangkit kembali. Untuk mencapai keterpujian (muhammad) masing-masing umat harus senantiasa memuji (ahmad). Jadi dari ahmad menuju muhammad. Implementasi kesadaran akan adanya Allah sebagai Ar-Rahman dan Ar-Rahim.[]

  1. Leave a comment

tinggalkan komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: