WAHYU ILAHI

“Mahasucikanlah nama Tuhan dikau Yang Mahatinggi, Yang menciptakan lalu menyempurnakan dan Yang menentukan ukuran (bagi masing-masing ciptaan) lalu memberi petunjuk (ke arah kesempurnaan). (Q.S. 87:1-3)

 

Wahyu Ilahi versus wahyu setan

Kriteria sesat menurut Rakernas MUI tahun 2007 yang ke 3 adalah ”meyakini turunnya wahyu setelah Al-Qur’an.” Kriteria  ini menyesatkan, karena bukan hanya bertentangan dengan ajaran  Quran Suci, Hadits Nabi dan pengalaman rohani orang-orang suci dari zaman ke zaman saja,  melainkan  pula melahirkan premanisme atau setanisme, sebab setan  pun dapat memberi wahyu: ”Dan demikianlah bagi tiap-tiap  Nabi Kami buatkan  musuh, setan-setan manusia dan jin sebagian mereka yuhi (membisikkan) sebagian yang lain dengan ucapan yang indah untuk menipu (mereka)” (6:112; lih 6:121).

Wahyu setan berupa ”ucapan yang indah” bagi hawa nafsu maka penerimaannya tertipu, karena maunya baik faktanya buruk, maunya membangun faktanya merusak dan maunya memimpin ke arah kebenaran faktanya menyesatkan  dari kebenaran, sebab  petuah pimpinannya menjadi dasar  jastifikasi anarkistis sebagaimana  kesaksian alam dan zaman  dalam rekaman sejarah dan Kitab Suci. Berbeda dengan Wahyu Ilahi, tatkala  disampaikan terasa pahit, dan  terdengar  menyakitkan, tetapi sejatinya manis dan menyembuhkan berbagai macam penyakit, baik penyakit jasmani (16: 69) maupun penyakit rohani (17:82; 41;44) yang berpusat di dada (10:57). Wahyu Ilahi nampaknya membahayakan dan merusak, tetapi  faktanya menyelamatkan dan membangun. Maka sejarah menyaksikan: Setanisme disampaikan oleh orang yang semula dihormati akhirnya dikutuk; sebaliknya gerakan samawi disampaikan oleh orang yang sejak awal sampai akhir hayatnya dihormati. Setanisme doktrinnya semula diterima  dunia akhirnya  ditolak, sebaliknya gerakan  samawi semula doktrinnya ditolak, akhirnya diterima, dicintai dan dibela. Setanisme sifatnya temporer, gerakan  samawi sifatnya abadi. Singkatnya Wahyu Ilahi selamanya bertentangan dengan wahyu setan. Wahyu Ilahi memperingatkan manusia akan adanya Tuhan Yang Maha Esa dan kehidupan akhirat, sedang wahyu setan melupakan manusia akan Tuhan Yang Esa dan kehidupan akhirat.

 

Milik hidup universal

Secara linguistik kata wahyu multi arti, yaitu: memberi isyarat, menggerakkan hati, membisikkan, menulis dan cepat atau segera. Dalam Quran Suci digunakan untuk menyebut hidayah Ilahi kepada ciptaan-Nya di alam semesta yang meliputi alam ma’adini (an organis), alam nabati, alam hewani, alam insani dan alam ruhi, sebagaimana diisyaratkan dalam ayat suci 87:1-3 di atas. Allah adalah Tuhan (Rabb) yang menciptakan  segala sesuatu  lalu menyempurnakannya. Masing-masing ciptaan ditakdirkan, yakni dikaruniai kemampuan-kemampuan yang tertanam (inhaerent) dalam kodratnya masing-masing, dan untuk memperkembangkan  kemampuan – kemampuan itu  Allah memberi hidayah. Dengan hidayah  inilah  tiap-tiap ciptaan mencapai kesempurnaan sesuai dengan kodratnya masing-masing.

Oleh karena itu Imam Raghib dalam kamus Quran Sucinya menjelaskan bahwa wahyu itu bukan hanya firman Ilahi kepada para Nabi saja, tetapi mencakup pula taskhir, yaitu ”membuat suatu barang mengikuti jalan yang selaras dengan hukum alam.” (Al-Mufradat, hlm.859). Senada dengan ini Iqbal menulis ”Hubungan dengan asal wujud itu tidak khusus bagi  manusia”  lebih lanjut dikatakan ”Sebenarnya cara yang dipakai Qur’an dengan kata ’wahyu’ menunjukkan, bahwa Qur’an  memandangnya sebagai milik hidup yang  universal, sekalipun kodrat dan  wataknya berbeda menurut tingkat evolusi hidup itu. Tumbuh-tumbuhan yang tumbuh bebas di dalam ruang, binatang  yang mengembangkan jenis baru untuk menyesuaikan diri dengan keadaan di sekitarnya serta mahkluk  manusia mendapat penerangan  dari makna  yang dalam  dari kehidupan, semua itu merupakan wahyu  dengan watak  yang beraneka macam, tergantung  kepada kebutuhan-kebutuhan si penerima atau kebutuhan-kebutuhan species tempat si penerima itu tergolong.” (The Reconstruction of Religious Thought in Islam, hlm. 137).

Ajaran Quran Suci tentang Wahyu Ilahi sebagaimana dikemukakan oleh Maulana Muhammad  Ali dalam The Holy Qur’an secara eksplisit ada lima macam, yaitu: (1) wahyu kepada amal ma’adini, misalnya  kepada langit ”Ia mewahyukan (auha) dalam tiap-tiap  langit perkaranya” (41:12), kepada bumi ”Tuhan dikau telah mewahyukan (auha) kepadanya” (99:5); (2) wahyu kepada alam hewani, misalnya lebah: ”Tuhan dikau, mewahyukan (auha Rabbuka) kepada lebah” (16:68) (3) wahyu kepada manusia biasa, baik laki-aki – misalnya kaum Hawaryyin: ”Tatkala Aku mewahyukan (idz auhaitu) kepada Hawariyin” (5:111) – maupun perempuan, misalnya ibu Nabi Musa: ”Kami wahyukan (auhaina) kepada ibu Musa” (28:7); (4) wahyu kepada  para Nabi: ”Sesungguhnya kami telah memberi wahyu (auhaina) kepada kamu” (4:163; lih 21:7; dll); (5) wahyu kepada malaikat: ”Tatkala Tuhan dikau mewahyukan (yuhi) kepada malaikat” (8:12). Secara implisit, misalnya wahyu kepada alam nabati, seperti anggur dan korma (16:67).

 

Cara Allah berfirman kepada manusia

Cara Allah berfirman kepada manusia (basyar) diikhtisarkan dalam ayat: ”Dan tiada bagi seorang manusia yang Allah berfirman  kepadanya, kecuali dengan wahyu atau dari belakang tirai atau dengan mengutus seorang utusan lalu mewahyukan dengan izin –Nya apa yang Ia kehendaki. Sesungguhnya Dia itu Mahaluhur, Yang Maha-bijaksana” (42:51).

Menurut ayat suci tersebut ada tiga cara Allah berfirman kepada manusia, yaitu : Pertama, dengan menyampaikan wahyu. Kata wahyu berasal dari kata auha, yuhi, wahyan yang multi arti, sebagaimana diterangkan di muka. Dalam konteks ini yang digunakan adalah arti aslinya, yakni al-isyaratus-sari’ah, isyarat yang cepat, yang dibisikkan  dalam kalbu seseorang, baik Nabi atau manusia bisa, baik lelaki ataupun perempuan.

Kedua, dari belakang tirai, misalnya berbentuk :

(a) ilham (91:8) berupa suara gaib, misalnya ilham kepada sahabat agar memandikan jasad Nabi Suci beserta gamisnya (Misykat), ilham kepada H.M. Ghulam Ahmad, bahwa ”banyak para raja  akan mencari berkah  dari ’pakaian’ beliau” (Barakatud –Du’a, hlm. 30).

(b) ru’ya atau impian (17:60) yang oleh  Nabi Suci disebut Ru’yash-Shalihah atau impian yang baik (H.r. Bukhari, Muslim), misalnya : mimpi Nabi Yusuf tentang bersujudnya sebelas bintang, matahari dan bulan kepada diri beliau(12:4), mimpi Firaun tentang tujuh ekor sapi betina yang gemuk-gemuk dimakan oleh tujuh ekor sapi betina yang kurus-kurus dan tujuh bulir gandum yang hijau dan tujuh bulir lainnya kering (12:43), mimpi Sayidina Umar tentang karunia kerajaan, mimpi Imam Syafi’i tentang Imamah beliau mimpi H.M. Ghulam Ahmad tentang penyiaran  Islam di Barat, visiun  Yehezikiel tentang dibanggunnya kembali Yerusalem yang dihancurkan  Nebukadnezar (2:259), dll.

(c) Kasyaf atau visiun, misalnya visiun  sarah  tentang kelahiran Iskak dan Yakub (11:71-73), visiun Maryam tentang kelahiran Almasih Isa bin Maryam (3:45-47), dll.

Ketiga, dengan mengutus Malaikat Jibril agar menyampaikan apa yang dikehendaki-Nya kepada seorang Nabi dengan kata-kata yang terang, misalnya apa yang Allah turunkan kepada Nuh dan para Nabi  sesudahnya, seperti : Ibrahim, Isamail, Ishak, Yakub, Isa, Ayub, Yunus, Harun, Sulaiman, Daud dan Musa (4;163-164) yang wahyu itu disampaikan dalam bahasa kaum mereka masing-masing, misalnya kepada Musa dan para Nabi Israel dalam bahasa Ibrani, kepada Zarathustra dalam bahasa Persi, kepada Sidharta Gotama dalam bahasa Pali, kepada Konghucu dalam bahasa China dan kepada Nabi Muhammad saw. dalam bahasa Arab (16:103).

Dalam teologi Islam cara pertama dan kedua disebut Wahyu Khatif (wahyu batin) atau Wahyu Ghairu Matlu (wahyu tak diucapkan dengan terang) atau ilham, lengkapnya wahyu ilham. Ini dikaruniakan kepada para Nabi dan manusia biasa. Hadits Nabi sumbernya Wahyu Khafiy yang diterima oleh Nabi Suci Muhammad saw., baik yang pembahasannya dari Nabi sendiri dan bahkan dari Allah Ta’ala (Hadits Qudisi) maupun dari para sahabatnya (Hadits filiyah, taqritiyah dan hammiyah).

Sedang  cara ketiga disebut  Wahyu Matlu artinya wahyu  yang dibaca, karena  diucapkan dengan kata-kata yang terang, atau Wahyu Nubuwwah artinya wahyu kenabian, karena  hanya dikaruniakan kepada para nabi saja, atau Wahyu Risalah artinya Wahyu Kerasulan, karena  harus disampaikan kepada umat. Ini bentuk wahyu tertinggi yang menjadi sumber Kitab Suci, dan telah tertutup setelah wafat Nabi Suci Muhammad saw., sebab beliau segel (penutup) para Nabi (33:40) dan agama Allah telah  sempurna dalam Islam (5:3). Ini yang disebut wahyu, lainnya disebut ilham, maka banyak orang berkata ”wahyu untuk Nabi, sedang ilham untuk manusia biasa.” Konsep teologis ini yang tertanam dalam benak umat Islam sejak pasca abad ke-3 Hijriah sampai sekarang, sampai sekarang, sebagaimana tertulis dalam buku teologi mereka.

 

Kenabian dan wahyu dua hal berbeda.

Konsep teologis tersebut melahirkan pendapat bahwa kenabian identik dengan wahyu, sehingga seseorang  yang menyatakan dirinya menerima wahyu Ilahi diidentikkan dengan mendakwakan diri  sebagai Nabi. Di samping itu, konsep teologis tersebut mempersempit arti kata wahyu dan mensakralkan kata wahyu secara berlebih-lebihan dan praktis  umat Islam meninggalkan Quran Suci, sebagaimana dikhawatirkan oleh Nabi Suci (25:30), karena yang dipegang  teguh oleh umat, bahkan oleh para alim ulamanya – sebagaimana diperagakan oleh MUI – adalah  konsep-konsep  teologis dari kitab-kitab teologika Islam atau ilmu kalam, sehingga dalam menerjemahkan kata ”auhaina” atau ”auhaitu” dalam Quran Suci tidak lagi secara harfiah: kami wahyukan” atau ”Aku wahyukan,” melainkan secara tafsiriah ”Kami wahyukan” atau ”Aku wahyukan” jika obyeknya seorang Nabi dan ”Kami ilhamkan” atau ”Aku ilhamkan” jika obyeknya bukan seorang Nabi, hanya manusia biasa saja, misalnya ibu Nabi Musa (28:7) dan kaum Hawariyin (5:111).

Terjemah tafsiriah memang tak dilarang, tetapi belum tentu benar, sebab kata ”ilham” digunakan pula oleh Quran Suci 91: 8. Jika kata auha-yuhi diartikan ilham sifatnya hipotetis. Cenderung pembenaran  diri dan menghakimi pihak lain. Di samping itu melahirkan doktrin-doktrin  religius menyimpang dari Quran Suci jika dikonfrontasikan dengan Quran Suci, misalnya ada nabi perempuan, karena itu ibu Nabi Musa dikaruniai wahyu, bahkan ada Nabi  itu seekor lebah, karena  lebah juga  dikaruniai wahyu. Pendapat-pendapat  semacam itu tak selaras dengan ajaran Quran Suci yang menegaskan  bahwa Nabi itu ”rijal, orang lelaki” (21:7) dari kalangan suatu bangsa atau umat (16:36), bukan binatang, bukan pula  malaikat, meski dikaruniai  wahyu.

Sebenarnya antara kenabian dan wahyu itu hal yang berbeda, meski  erat hubungannya, bahkan tak terpisahkan, sebab seseorang menjadi Nabi karena wahyu yang diterimanya tetapi tidak setiap penerima wahyu adalah Nabi. Maka dari itu dengan tertutupnya pintu  kenabian pada diri Nabi Suci  Muhammad saw. tak berarti  tertutup  pula pintu wahyu Ilahi. Sebagaimana  dijelaskan di muka, wahyu Ilahi adalah komunikasi Ilahi dengan ciptaan-Nya, maka kesimpulannya, pintu  wahyu Ilahi  yang telah tertutup  hanyalah  wahyu kenabian saja,  sebab agama telah  sempurna  dalam Islam, sedang selain  itu tetap  terbuka, sebab:

(1) Wahyu Ilahi adalah kenikmatan  tertinggi yang amat dibutuhkan oleh umat manusia guna menghidupkan rohaninya, sebagaimana pernyataan Ilahi lewat Musa dan Isa Almasih, bahwa manusia hidup tidak  hanya dengan  roti saja, tetapi juga dengan tiap-tiap  firman  yang  keluar dari mulut Allah” (Ul 8:3; Mat 4:4). Ijabatud-du’a atau terkabulnya doa seorang hamba disampaikan Ilahi lewat wahyu dalam arti aslinya ”isyarat yang cepat” atau ”dari belakang tirai” yang berupa ilham, kesyafatan ru’yash-shalihah.

(2) Wahyu Ilahi sebagai manifestasi sifat-Nya ”Kalam atau berfirman” dan ”Mutakalliman atau Yang Maha berfirman.” H.M. Ghulam Ahmad menyatakan ”Jika dahulu Allah berfirman, sekarang pun Dia berfirman juga ”(Safinatu Nuh), saya tambahkan ”pasca Kiamat pun Allah tetap berfirman. Sudah barang tentu caranya tidak lagi dengan menyampaikan wahyu dan tidak pula melalui belakang tirai seperti sekarang di dunia ini. WallaHu a’lam.”[]

 

 

  1. Leave a comment

tinggalkan komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: