Jati Diri Ahmadiyah Lahore

Kamu adalah sebaik-baik umat yang dibangkitkan untuk manusia; kamu menyuruh berbuat baik dan melarang berbuat jahat dan kamu beriman kepada Allah. Dan sekiranya kaum Ahli Kitab beriman, ini lebih baik bagi mereka. Sebagian mereka beriman, tetapi kebanyakan mereka durhaka
(3:110)

Jatidiri teori dan praktek

Yang dimaksud ”kamu” adalah umat Islam yang pada zaman akhir ini dipresentasikan oleh kaum Ahmadi (Lahore) yang jatidirinya terdiri dari dua bagian, yaitu dalam teori dan dalam praktek, yang masing-masing terdiri dari dua belas pasal. Jati diri dalam teori adalah spiritualitas atau jiwa semangat dan daya gerak dari dalam diri seorang Muslim Ahmadi; sedang jatidiri dalam praktek adalah perilaku seseorang yang melukiskan jatidiri seorang Muslim Ahmadi.

Jatidiri dalam teori

Rumusan dan penjelasan singkat adalah sbb:

  1. Islam adalah agama yang hidup. Semua pengikutnya yang sempurna, dengan ridha Ilahi dapat berhubungan dengan-Nya. Tercermin dalam Kitab Suci yang menjadi sumber sejatinya, yang telah memperkenalkan dirinya bernama Al – Qur’an (2: 185), asalnya dari Tuhan (3:2-3), yang diwahyukan oleh Jibril 2:97) atau Roh Kudus (16:102) kepada Nabi Suci Muhammad (47: 2) dalam bahasa Arab (16: 103) secara berangsur-angsur (25:32), yang pertama adalah 96: 1-5 yang diturunkan dalam bulan Ramadhan (2:185) pada suatu malam yang disebut Lailatul Qadr (97: 1) atau Lailatul-Mubarakah (44: 3) dan yang terakhir adalah ayat 5:3; dirinya dijaga oleh Allah (15:9) maka kepalsuan tak menjamahnya, baik dari depan maupun dari belakangnya (41:41-42). Kitab ini menyatakan bahwa manusia dapat berhubungan langsung dengan Allah, karena membimbing manusia agar memanjatkan doa ”ihdinashirathal mustaqim, shirathalladzina an’amta ’alaihim” (1:5-6) dan menginformasikan, adanya orang-orang yang mendapat nikmat, yaitu para nabi, para shidiqin, syuhada, dan shalihin (4:69).
  2. Islam adalah agama kesatuan, semua umat Islam adalah saudara dan tak seorangpun dapat disebut kafir karena berbeda pendapat, selama ia berpegang teguh kepada kalimat la ilaha illallah Muhammadaur-rasulullah (tak ada Tuhan selain Allah dan Muhammadur-rasulullah). Islam dianut oleh berbagai bangsa di dunia, namun demikian umat Islam itu bersaudara (49:10) ibarat satu tubuh, jika bagian tubuh yang satu menderita sakit, bagian lainnya ikut merasakannya (Hr. Bukhari). Tak boleh saling mengolok-olok dan mencela serta memanggil dengan nama ejekan (49: 11) juga dilarang saling berprasangka dan memata-matai (49:12). Harus saling tolong-menolong dalam kebaikan dan ketaqwaan, bukan tolong-menolong dalam perbuatan dosa dan permusuhan (5:2).
  3. Agama Islam berpandangan luas. Islam mengakui umat manusia dan menerima semua Nabi yang dibangkitkan diantara semua bangsa di dunia. Manusia adalah satu umat (2: 213) terdiri dari berbagai suku dan bangsa (49: 13) yang berbeda-beda bahasa dan warna kulitnya (30: 22); meski hidup bertebaran (30:20) tetap dipermukaan bumi yang satu dibawah satu atap, langit (2:22). Kesatuan umat manusia juga mencakup aspek rohani, karena Islam mengakui universalitas kenabian; Allah telah membangkitkan seorang rasul pada tiap-tiap umat (10: 47), tak ada suatu umat pun melainkan telah kedatangan seorang Juru – ingat (35: 24), semuanya diimani tanpa diskriminasi (2: 285).
  4. Islam adalah agama yang unggul dan tak bisa diungguli. Prinsip ajarannya secara bertahap akan diterima dan memperoleh kemajuan di dunia. Di dunia ini berlaku hukum evolusi, baik di dalam jasmani maupun di alam rohani, sebagai manifestasi sifat Allah sebagai Rabbul’alamin (1:1). Agama Allah diwahyukan sejak Adam as sekitar 4000 tahun SM sampai pada diri Nabi Suci Muhammad saw (570-632) mencapai kesempurnaan (5:3). Maka dari itu al-Islamu ya ’lu wala yu’la alaih dan cepat atau lambat prinsip-prinsip ajarannya diterima oleh dunia, karena semua umat manusia kodratnya baik (30:30) dan ber-Tuhan (7:172) maka selalu mencari Dia (84: 6), sebab Dialah tujuan akhir kehidupan itu (53:42).
  5. Islam adalah agama yang rasional. Baik ajaran pokok (ushul) maupun cabang-cabang (furu’) nya selaras dengan nalar dan fitrah manusia”. Islam adalah al-ilmu (2:120) dan agama fitrah, sebagaimana ditegaskan dalam ayat: 30:30. Oleh karena itu tak ada paksaan dalam agama Islam (2:256).
  6. Pintu Ijtihad tetap terbuka untuk selama-lamanya. Manusia sebagai ahsani taqwim, (95:5) dikaruniai kebebasan berkehendak dan berbuat yang harus dipertanggungjawabkan demi penyempurnaan dirinya (33:72). Karena kebebasan itulah maka manusia dianjurkan berijtihad agar ia dapat menyempurnakan dirinya sebagai wakil (khalifah) Allah di bumi (2:30).
  7. Kitab Suci Al-Qur’an mendapat tempat yang pertama dan utama dalam kehidupan, dan merupakan sumber hukum Islam yang asli dan tak dapat diganti. Hadits datang sesudah itu dan berada di bawah Al-Qur’an. Sesudah itu datang Fiqih (yurisprudensi) dan Ijtihad para Imam, yang kedua-duanya berada dibawah Qur’an Suci dan Hadits Nabi saw. Qur’an Suci adalah firman Allah, kalamullah (9:6), sedang Hadits adalah penjelasannya. Fiqih sebagai hasil ijtihad para Imam dasarnya adalah Qur’an Suci dan Hadits Nabi. Maka dari itu Qur’an Suci merupakan sumber hukum Islam yang asli sifatnya abadi sebagai petunjuk bagi manusai (2: 185).
  8. Kitab Suci Al-Qur’an adalah sumber petunjuk bagi umat manusia sepanjang zaman. Tak ada satu ayat pun yang pernah hapus atau akan dihapus. Nasikh-mansukh (2: 106) berhubungan dengan Kitab-kitab Suci terdahulu: Yang mansukh (dihapus) adalah aya-ayat kitab Suci terdahulu, bukan ayat Qur’an, maka dari itu Qur’an Suci sifatnya nasikh (menghapus), tak ada yang mansukh, baik hukumnya maupun lafalnya.
  9. Kitab Suci Al-Qur’an memiliki daya rohani yang besar, oleh karena itu tidak memerlukan dan tak akan memerlukan pedang. Manusia itu hidup tidak hanya dengan roti saja, tetapi juga dengan tiap-tiap firman yang keluar dari mulut Allah, yang termaktub dalam Kitab Suci. Oleh karena itu Al-Qur’an sebagai firman Allah bisa untuk menghidupkan orang-orang yang mati rohaninya, sehingga mampu berbicara (13:31), sedang pedang hanya bisa mematikan orang hidup, bukan sebaliknya, maka dari itu Qur’an Suci tak memerlukan pedang dalam menaklukkan hati manusia (16:125,29:46).
  10. Kitab Suci Al-Qur’an adalah kumpulan semua kebenaran rohani dan agama, dan memancarkan sinar kepadanya. Tidak hanya mendorong ke arah kemajuan di bidang agama saja, tetapi juga memberikan dalil-dalil dalam memperjuangkannya. Seperti ditegaskan dalam Qur’an Suci, bahwa ”lembaran-lembaran suci (Al-Qur’an) yang didalamnya termaktub Kitab-kitab yang benar” (98: 2-3) dan fungsinya sebagai An-Nur (7: 157) menerangi segala sesuatu, terutama terhadap kebenaran rohani dan agama terdahulu, maka dari itu umat Islam dianjurkan agar menjelaskan kepada umat manusia dari berbagai bangsa di dunia tentang apa yang telah diwahyukan kepada mereka lewat para Nabi mereka masing-masing (16: 44)
  11. Nabi Suci Muhammad saw. memiliki sifat-sifat kesempurnaan semua Nabi terdahulu; oleh karena itu umat manusia tidak memerlukan datangnya Nabi lagi. Sebagai Khatamun-Nabiyyin (33:40) kepada beliau telah Allah wahyukan seperti apa yang telah diwahyukan kepada Nabi Nuh dan para Nabi sesudahnya (4:163), maka dalam diri beliau terdapat keperwiraan Musa, keberanian Daud, kejayaan Sulaiman, kesabaran Ayub, kekhusyukan berdoa Zakaria, kesederhanaan Yahya, kemurahan hati Isa Almasih, dsb maka dari itu kenabian diakhiri, sebab agama telah sempurna dalam Islam(5: 3).
  12. Nabi Muhammad saw. adalah penutup para Nabi, sesudah beliau tidak akan datang Nabi lagi, baik Nabi lama maupun Nabi baru. Para Mujaddid (pembaharu) akan bangkit pada tiap-tiap permulaan abad untuk membetulkan kesalahan-kesalahan umat Islam dan memberi bimbingan ke jalan yang benar. Berakhirnya kenabian ditegaskan dalam Qur’an Suci 33:40 karena agama Allah telah sempurna dalam Islam (5:3) dan Nabi Suci berulangkali menyatakan ”la nabiyya ba’di, tak ada Nabi sesudahku” (Hr. Bukhari). HM.Ghulam Ahmad pun berulangkali menyatakan, bahwa Nabi Suci saw. adalah segel (penutup) para Nabi. Pembimbing umat Islam setelah beliau adalah para Mujaddid, yakni seorang ulama yang seperti para Nabi Bani Israel.

Jati diri Ahmadiyah dalam praktek

Rumusan dan penjelasan singkatnya sbb:

  1. Menghormati para pendiri agama dari berbagai bangsa dan kitab-kitab sucinya. Manifestasinya menghormati tempat-tempat suci dari berbagai agama, yakni biara, gereja, sinagog atau kanisah, masjid (22: 40), vihara, candi, kelenteng, dan lain-lain, serta memperlakukan umatnya sebagai mitra dialog (29:46) yang diseru sebagai Ahlikitab (3: 64).
  2. Menghormati semua sahabat Rasulullah saw., semua Imam (dari mazhab manapun), para wali dan Mujaddid. Mereka semua adalah golongan orang-orang yang dikaruniai nikmat Ilahi, yakni para shiddiqin, syuhada dan shalihin (4:69), cara menghormatinya ialah mengikuti ajaran dan teladannya (9: 119). Para Mujaddid wajib ditaati, karena mereka adalah ulil-amri minkum (4:59) pada abadnya masing-masing. Menurut Imam HM.Ghulam Ahmad, mereka adalah ”orang yang diberi baruz Muhammadiyah” (Safinatu Nuh).
  3. Beranggapan bahwa semua mazhab dalam Islam adalah sebagai ranting-ranting pohon yang beraneka macam. Perbedaan-perbedaan kecil saja timbul, tetapi semua sependapat tentang Qur’an Suci dan Nabi Suci Muhammad saw. Semua mazhab adalah penerus para Mujaddid yang dibangkitkan pada tiap – tiap permulaan abad dari abad ke abad. Penerus Mujaddid abad 14 H sebagai Masih dan Mahdi adalah Muslim Ahmadi, baginya beda pendapat adalah kawan berfikir dan beda ibadah adalah kawan dialog serta beda ibadah adalah kawan dalam kebaikan.
  4. Tunduk kepada syariat dan adat istiadat Islam. Menjauhi semua adat dan kebiasaan yang buruk dan menerima Al-Qur’an secara kaffah. Ini merupakan implementasi ” menghormati peraturan Allah yang suci, sebagai manifestasi ketaqwaan yang letaknya di dalam hati (22:32). Oleh karena itu HM. Ghulam Ahmad menyatakan ”akar dari segala perbuatan baik adalah taqwa. Jika akar ini tak kering, amal perbuatan tak akan layu” (Safinatu Nuh).
  5. Cinta kasih kepada siapapun (pemeluk agama apapun), dari negara manapun dari bangsa atau umat apapun juga. Sebagai manifestasi iman kepada Kitab Suci dan Utusan Allah (2:285) yang telah dibangkitkan pada tiap-tiap umat (10:47) dan terutama sekali sebagai realisasi rahmatan lil ’alamin Nabi Suci saw. Semua manusia adalah umat Nabi Suci saw. karena beliau diutus kepada sekalian umat manusia (34:28)
  6. Beranggapan bahwa setiap orang Islam adalah saudara dan berusaha sedapat mungkin untuk menolongnya. Landasannya adalah firman Allah ”semua kaum mukmin adalah saudara” (49: 10) ”seperti satu tubuh” kata Nabi Suci. Setiap orang Islam adalah anak Nabi Suci saw (33: 40) dan istri-istri beliau adalah ibu orang-orang beriman (33: 6).
  7. Kebaktian kepada agama Islam dikerjakan bersama Imam dan Mujaddid pada abadnya dan dibawah pimpinannya. Berjuang untuk memperbaharuhi dan membuang kesalahan-kesalahan dengan semangat dan jiwa agama yang besar. Selaras dengan doa ”ihdinash-shirathal-mustaqim, shirathalladzina an’amta ’alaihim” (1:5-6) dan realisasi perintah Ilahi agar mengikuti orang-orang tulus (9:119). Para Imam Mujaddid adalah muthahharun, orang-orang yang disucikan (56:79) yang mendapatkan tugas menyucikan umat Islam, karena umat Islam itu seperti pohon kurma yang daun keringnya tidak jatuh dengan sendirinya (Hr. Bukhari).
  8. Membela agama Islam, semua Kitab Suci dan Utusan Allah dari segala serangan. Kitab Suci berupa petunjuk yang bersifat teoritis para Utusan Allah pembawa Kitab Suci merupakan petunjuk yang bersifat praktek, maka keduanya harus dihormati dan dibela jika mendapatkan serangan. Pembelaan terhadap Kitab-Kitab Suci dan para Utusan Allah terdahulu dengan cara memfungsikan Qur’an Suci sebagai mushaddiq (yang membenarkan), muhaimin (yang menjaga), mubayyin (yang menjelaskan), mufashshil (yang menguraikan ) dan Furqan (yang membedakan). Ini berarti membela Islam.
  9. Beranggapan bahwa dirinya sebagai duta di jalan Tuhan Yang Maha Esa dalam hal menyebarluaskan Islam. Menyampaian wahyu Tuhan dan pesan Islam kepada seluruh bangsa di dunia. Karena amanat Ilahi diturunkannya Qur’an Suci ”Agar engkau dapat menjelaskan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka” (16; 44) lewat utusan Allah (16: 43) kepada masing-masing umat (16:36). Penyampaian amanat ini merupakan manifestasi beriman kepada Nabi Suci sebagai Khatamun-Nabiyyin (33:40) yang dalam diri pribadinya terdapat kepribadian luhur yang telah diperagakan oleh para Nabi terdahulu (98:2-3).
  10. Membelanjakan sebagian dari waktu dan miliknya untuk mempertahankan dan menyiarkan Islam. Mulai dari yang kecil menuju yang besar atau dari yang sedikit menuju yang banyak, dari diri sendiri lalu keluarga (66: 60) kemudian meluas ke masyarakat akhirnya ke seluruh dunia.(57:16-18).
  11. Dengan senang hati menghadapi segala macam kesulitan, kesalahpahaman dan penghinaan demi untuk agama Allah. Semua itu merupakan sarana efektif untuk memperoleh kemuliaan di dunia dan akhirat sebagaimana telah dijanjikan Ilahi kepada Isa Almasih (3:55). Janji-janji Ilahi kepada Isa Almasih yang telah diberitahukan kepada Siti Maryam (3:45-46) pada zaman akhir ini terulang kembali bagi kaum Ahmadi.
  12. Menjunjung tinggi agama melebihi dunia. Cinta kasih kepada Tuhan dan utusan-Nya. Mendahulukan pembaktian kepada agama Islam dan rela berkorban untuk umat manusia pada umumnya dan Nabi Suci Muhammad saw. pada khususnya dari pada urusan duniawi. Pola pembaktiannya dilukiskan Ilahi dalam Qur’an Suci 48:29 sebagai penggenapan nubuat Taurat dan Injil. Lukisan dalam Taurat tergenapi pada diri Nabi Suci dalam nama ”Muhammad” yang mengandung sifat jalali yang diperagakan di Madinah, sedang lukisan dalam Injil tergenapi pada diri Nabi Suci dalam nama ”Ahmad” yang mengandung sifat jamali, yang diperagakan di Mekkah. Implementasinya pada zaman akhir ini ”sifat jalali” berkenaan dengan akidah dan ibadah atau hablum minallah”, sedang ”sifat jamali” berkenaan dengan muamalah dan akhlak atau ”hablum minannas” yang keduanya terkandung dalam nama Ahmadiyah yang telah dilukiskan dalam Taurat dan Injil.[]
  1. Leave a comment

tinggalkan komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: