KEPULIHAN TAMAN EDEN DI BUMI

Sesungguhnya akan datang kepadamu petunjuk dari pada-Ku, lalu barang siapa mengikuti petunjuk-Ku, tak ada ketakutan akan menimpa mereka, dan mereka tak akan susah.1

Nubuat pulihnya kembali Taman Eden di atas disampaikan kepada Adam dan Hawa tatkala mereka diusir dari Sorga: “Pergilah kamu semua dari sana, …”2 Kisah selengkap-nya sebagai berikut: “Allah telah menjadikan Adam seba-gai Khalifah di muka bumi.3 Ia diciptakan dari tanah,4 lalu disempurnakan Ilahi dengan meniupkan sebagian dari ruh-Nya,5 dan dikaruniai pengeta-huan tentang benda-benda,6 yang membantu pertumbuhan, jasmani dan ruhani secara sempurna. Dengan pengetahuan dan ilham itulah Adam memperoleh derajat yang tinggi melebihi semua ciptaan,7 termasuk Malaikat, sehingga Malaikat sujud kepadanya.8

Adam dan Hawa hidup senang dan bahagia di Sorga, tanpa mengalami kelaparan dan telanjang, haus dan lapar serta ditimpa panas matahari.9 De-ngan peringatan agar waspada terhadap barang-barang yang membahayakan kebahagiaan mereka.10 Keadaan senang dan bahagia itu membuat manusia mudah lupa akan peringatan itu11 dan mengikuti bisikan setan dan iblis.12 Bisikan setan inilah yang menyebabkan Adam mengambil keputusan salah yang mengakibatkan Adam kehilangan kebahagiaan Sorga dan menemui kesukaran.13 Adam bertobat dan Allah mengam-puninya.14 Adam dan Hawa diusir dari Sorga disertai janji seperti dalam ayat suci di atas.

Kisah tersebut di kalangan umat Islam terdapat dua versi pemahaman: Pertama, memahaminya se-bagai kisah historis yang telah terjadi pada waktu tertentu dengan pelaku tertentu, yakni Adam dan Hawa pemeran utamanya, di tempat tertentu, yakni di Sorga secara geografis dimana dan kapan terjadinya, wallahu a’lam, karena itu timbul pertanyaan “Sorga Adam apa-kah sama dengan Sorga yang dijanjikan Ilahi bagi orang beriman dan beramal di akhirat kelak? Ajaran semacam ini juga terdapat dalam Bibel, maka di kalangan umat Kristen ada ajaran tentang hilangnya Taman Eden dan pulihnya kembali Taman Eden dengan perantara-an Yesus Kristus yang sampai sekarang belum juga terwujud, meski telah lewat lebih kurang enam ribu tahun, dan setiap saat mereka berdoa, “Datanglah Kerajaan-Mu di bumi seperti di Sorga”.15

Kedua, memahami kisah tersebut sebagai kisah historis, tetapi sebagai kisah simbolik, yakni simbol atau gambaran bagi seluruh umat manusia, termasuk Adam dan Hawa yang secara historis hidup di tengah-tengah umatnya sekitar empat ribu tahun sebelum Masehi. Jadi jika demikian kisah itu juga diri kita masing-masing.

Penulis lebih cenderung kepada pendapat yang kedua, sebab kisah-kisah dalam Quran Suci itu lebih bersifat simbolik daripada historis, buktinya:

  1. Ayat-ayat Quran Suci lebih banyak yang bersifat metaforis atau mutasyabihat dari-pada ayat-ayat yang bersifat muhkamat.
  2. Kisah-kisah itu tanpa ketera-ngan tempat secara geografis.
  3. Kisah-kisah itu tidak selalu disertai keterangan waktu dan jabatan seseorang yang dikisahkan. Dengan demiki-an, kisah tersebut dapat di-terapkan kepada siapa saja, kapan saja dan di mana saja Ia berada. Hal ini selaras dengan ajaran Quran Suci yang kekal dan universal.

Kembali kepada fitrah

Sebagai contoh misalnya, kisah Adam di Taman Eden di atas. Kisah itu dapat diterapkan kepada diri kita masing-masing yang oleh Nabi Suci Muhammad saw. ditegaskan bahwa setiap anak dilahirkan dalam keadaan suci, fitrah (Bukhari) kita lihat anak balita, wajahnya cerah ceria, sikap dan perbuatan serba alami tak dibuat-buat, merasa heran terhadap kehidupan, serba ingin tahu, merendahkan diri, tidak sombong, tergantung kepada orang lain, penuh keper-cayaan diri, bersahabat, tak mengenal status sosial, kedu-dukan, rasa dan sebagai-nya, sinar matanya tajam, senyum-nya menawan, semuanya pan-caran dari kesucian dan ketulusan. Keadaan itu akan berubah, setelah sang anak mengenal dosa, dan melakukan-nya. Lenyaplah kehidupan Sor-gawi, karena dosa.

Fitrah yang menciptakan kehidupan sorgawi itu dapat di-pertahankan dan dapat diwujud-kan, jika seseorang menerima perjanjian Ilahi yang telah di-sampaikan sejak Adam, yakni mengikuti petunjuk Ilahi yang fitriah15 yang telah kita ikrarkan juga tatkala kita ikrarkan juga tatkala kita akan lahir ke dunia.16 Manifestasi kehidupan yang fitrah, dan Sorgawi, dapat kita alami atau setidak-tidaknya kita saksikan dalam kehidupan umat Islam setelah melakukan jihad akbar, berpuasa Ramadhan, yakni tanggal 1 Syawal yang disebut Idul Fitri, yang artinya kembali pada fitrah atau kebahagiaan yang selalu ber-ulang. Pada saat itu, pakaian bersih, makanan lezat, minu-man nikmat, aromatik, wajah ceria, jiwa bebas, tanpa beban dan besar … senantiasa siap meminta dan memberi maaf.

Dalam Injil pun ada lukisan kehidupan Sorgawi itu. Pada suatu saat Yesus ditanya oleh umatnya tentang siapakah yang terbesar dalam kerajaan Sorga? Beliau tak menjawab secara Oral, tetapi memanggil anak kecil (balita), lalu menempatkannya di tengah-tengah mereka, lalu beliau berkata: “Sesungguhnya jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga. Se-dangkan barang siapa meren-dahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam kerajaan Sorga”.17

Akan tetapi sayang, pelaja-ran Yesus itu oleh para pen-deta Kristen disalahtafsirkan untuk menentang agama Allah, antara lain oleh Pendeta Fredolin Ukur, Pengasuh Renu-ngan Minggu Harian Umum Sinar Harapan yang sekarang menjadi Suara Pembaharuan. Ia katakan, bahwa “agaknya tidaklah dimaksudkan tidak berdosa seperti si anak ini; “ … Bila Yesus menggunakan anak kecil sebagai lambang di sini, maka jelas tidak dimaksudkan seolah-olah anak kecil itu bersih tanpa noda, karena semua tahu bahwa kepribadian anak keil bukanlah tabula rasa, sesuatu yang blanko”.18 Penolakan ini didasarkan pada doktrin “Injil tentang Yesus” yang me-nyatakan bahwa manusia lahir ke dunia telah membawa dosa yang diwariskan oleh Adam.19 Karena dosa itu, maka Paulus pendiri agama Kristen mengata-kan “bahwa semua orang berdosa, baik orang Yahudi maupun bukan. Seperti di-katakan dalam alkitab: “Tidak seorangpun di seluruh dunia ini yang tidak berkesalahan. Tidak seorang pun benar-benar mengikuti jalan Allah, atau dengan sungguh-sungguh ingin mengikutinya semua orang sudah murtad dan sesat. Dimanapun tidak ada orang yang selalu melakukan hal-hal yang benar, seorang pun tidak”.20 kehidupan Sorgawi menurut mereka bukan karena bertobat lalu berbuat menurut hukum syariat, melainkan karena karunia semata21 lewat kematian Kristus22 secara ter-kutuk disalib.23 Menurut Paulus dengan menjalankan hukum agama, tidak seorang pun bisa berbalik kembali dengan Allah”.24 Ini bertentangan dengan ajaran Yesus di atas.

Taman Eden dalam Nubuatan

Pelaksanaan syariat yang sempurna25 secara sempurna sebagaimana dicontohkan oleh sang Uswatun Hasanah26 akan mewujudkan tegaknya Kerajaan Sorga atau Taman Eden di bumi, yakni suatu kehidupan dalam mahabbah dan maghfirah Ilahi27 yang dengan demikian tak akan ada rasa takut dan susah28 yang oleh Nabi Yesaya di-lukiskan bahwa: “Serigala akan tinggal bersama domba dan macan tutul akan berbaring di samping kambing. Anak lembu dan anak singa akan makan rumput bersama-sama, dan seorang anak kecil akan meng-giringnya. Lembu dan Beruang, akan sama-sama makan rumput dan anaknya akan sama-sama berbaring, sedang singa akan makan jerami seperti lembu. Anak yang menyusu akan bermain-main dekat liang ular tedung dan anak yang cerai susu akan mengulurkan tangan-nya ke sarang ular beludak. Tidak ada yang berbuat jahat atau yang berlaku busuk di seluruh gunung-Ku yang kudus, sebab seluruh bumi penuh dengan pengenalan akan Tuhan, seperti air laut yang menutupi dasarnya”.29

Nubuat Yesaya ini menjadi sempurna berkat terutusnya Nabi Suci Muhammad saw. sebagai Rahmatan Lil’alamin.30 Berkat ajaran beliau persamaan derajat dan perdamaian univer-sal sehingga “serigala”, “domba”, “macan tutul”, “lembu”, “singa”, ular tedung”, “ular beludak”, dan “anak yang menyusu” serta “anak yang cerai susu” hidup rukun, tenteram dan damai dalam kebahagiaan yang sem-purna tercermin dalam kehidu-pan umat Islam merayakan Idul Fitri. Inilah salah satu rahasia mengapa umat Islam yang melakukan ibadah puasa Rama-dhan disebut Saihun31 dan Saihat32 atau pengembara ruhani dan Idul Fitri adalah puncak acara menyambut Ramadhan yang penuh barkah. Setelah mengembara secara ruhani selama satu bulan penuh, wajarlah jika ia memperoleh Idul Fitri.

Alam pun menjadi saksi atas kebenaran atau realitas ini. Lihatlah fenomena alam. Adanya kehidupan di alam semesta yang mendatangkan manfaat bagi sesama karena adanya aturan “puasa”. Jika musim kemarau tiba, berbagai jenis tumbuhan “berpuasa” karena daun-daun-nya rontok, tetapi setelah turun hujan segera bersemi kembali, lalu berbunga dan akhirnya berbah dan berguguran setelah meranum. Hal ini akan nampak lebih terang di daerah yang mengenal empat musim, yang tetumbuhan itu berpuasa pada musim dingin. Dalam dunia binatang pun kita saksikan peristiwa semacam itu. Ulat, suatu binatang yang menjijikkan, makannya serba kasar dan kotor, perbuatannya merusak. Akan tetapi setelah “berpuasa” dalam beberapa hari dalam bentuk kepompong, akhirnya berubah menjadi ciptaan nan indah, yakni kupu. Makanannya serba manis dan halus. Keber-adaannya sangat menawan, kedatangannya mendatangkan keberuntungan. Inilah yang di-maksud oleh ayat suci Alquran bahwa semua yang ada di langit dan bumi bertasbih kepada Allah33 dan bersujud kepada-Nya,34 baik itu manusia biasa35 atau Nabi36 dan malaikat37 maupun benda-benda mati, seperti gunung, matahari, bulan, bintang dan binatang serta pepohonan.38

Jadi kehidupan Sorgawi itu tidak hanya menyangkut manusia saja, yang oleh Yesaya dilukiskan dengan berbagai “binatang”, tetapi mencakup pula semua ciptaan.

Pulihnya kembali Taman Eden

Dengan demikian jelaslah bahwa kehidupan Sorgawi atau pulihnya Taman Eden di bumi itu hanya dapat dicapai oleh Islam saja, bukan oleh agama Yahudi dan Kristen dan bukan pula oleh lainnya. Agama-agama non Islam tak akan mampu mengantarkan umat manusia memasuki Taman Eden, karena agama-agama itu belum sempurna, sehingga mudah sekali menggelincirkan umatnya dalam ekstremitas. Sebagai contoh, misalnya agama Yahudi, agama ini lebih mementingkan pelaksanaan syariat secara lahiriah dan mengabaikan aspek-aspek bati-niahnya, sehingga para ulama dan pendetanya saja biasa makan dari perolehan yang tidak halal.39

Demikian pula Agama Kristen, agama ini tak akan mampu mengantarkan manusia menciptakan kehidu-pan Sorgawi atau Taman Eden di bumi karena lebih me-mentingkan aspek batiniah dan mengabaikan sama sekali sya-riat secara lahiriah, sehingga mereka tak mengharamkan apa yang diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya40 bagi mereka “segala sesuatu halal” dan “segala sesuatu diperboleh-kan”.41 Akibatnya kedua umat itu terjebak ekstremitas, meski berpegang pada kitab yang sama mereka saling me-nyalahkan.43 Keduanya dikutuk Ilahi, bahwa agama mereka tak menyucikan jiwa mereka.42 keberagamaan versi Yahudi memasukkan seseorang ke dalam golongan Almaghdlub, orang yang mendapat murka, sedang keberagamaan Kristen memasukkan seseorang dalam golongan Adl-dlallin, orang-orang yang tersesat.43 Oleh karena itu sorga menurut mereka itu dalam Alquran di-nyatakan sebagai amaniy, artinya lamunan atau angan-angan.44

1.QS 2: 38
2.QS 2: 38; 20: 123
3.QS 2: 30
4.QS 3: 59; 15: 26
5.QS 15: 28; 38: 72
6.QS 2: 31
7.QS 17: 70
8.QS 2: 35; 15: 30
9.QS 20: 118-119
10.QS 2: 35; 20: 117
11.QS 20: 115
12.QS 2: 36
13.QS 2: 36; 7: 22-23
14.QS 20: 122
15.QS 30: 30
16.QS 7: 172
17.Mat 18: 3-4
18.Sinar Harapan, 10 Juli 1987
19.Rm 5: 12
20.Rm 3: 9-12
21.Efesus 2 : 13
22.Rm 5: 8-11
23.Gal 3: 13
24.Gal 2: 16
25.QS 5: 3
26.QS 33: 21
27.QS 3: 31
28.Yes 11: 6-9
29.QS 21: 107
30.QS 9: 112
31.QS 66: 5
32.QS 59: 1
33.QS 3: 83
34.QS 2: 112
35.QS 5: 44; 42: 13
36.16: 49-50
37.QS 22: 18; 55: 5-7
38.QS 5: 62-63
39.QS 9: 29
40.1 Kor 6: 12; 10: 23-25
41.QS 2: 113
42.QS 2: 174
43.QS 1: 7
44.QS 2: 111

  1. Leave a comment

tinggalkan komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: