GERAKAN AHMADIYAH

  1. Apakah Ahmadiyah itu?

AHMADIYAH itu Gerakan Pembaharuan dalam Islam pada zaman akhir ini.

Secara linguistik Ahmadiyah berasal dari kata “ahmad” dan mendapat tambahan ya’ nisbi atau ya’ sibhu artinya ya’ penjenisan atau pengidentikkan; jadi Ahmadiyah berarti sejenis Ahmad atau mengidentikkan Ahmad, yakni menyamakan atau mengidentikkan diri dengan Ahmad.

  1. Nama “Ahmadiyah” diambil dari kata “ahmad” artinya apa?

Kata “Ahmad” artinya “aku memuji” yakni orang yang memuji (sebagai kata kerja), atau “yang terpuji” (sebagai kata sifat) identik dengan arti kata “Muhammad”, berasal dari akar kata hamida-yahmadu-hamdan artinya memuji atau puji.

Kata “ahmad” mengandung arti ganda, yakni “yang memuji” dan “yang terpuji”.

  1. Siapa yang dimaksud “Ahmad” itu?

Yang dimaksud “Ahmad” adalah Nabi Suci Muhammad saw (570-632), nama yang diberikan oleh ibundanya Siti Aminah (w. 576), sebagai penggenapan nubuat Nabi Isa Almasih (Yesus Kristus) dalan Injil –bahkan inti Injil—yang diabadikan dalam Quran Suci 61:6.

Nama “Muhammad” diberikan oleh kakeknya, Abdul-Muthalib (w.578) yang karakteristiknya telah disebutkan dalam Taurat dan Injil (7:157).

  1. Bagaimana bunyi nubuat itu?

Bunyi nubuat itu sebagai berikut:

“Tatkala Isa bin Maryam berkata: Wahai para Putra Israel, sesungguhnya aku adalah Utusan Allah kepada kamu yang membenarkan apa yang ada sebelumku tentang Taurat, dan memberi kabar baik tentang seorang Utusan yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad. Tetapi tatkala ia datang kepada mereka dengan bukti yang terang mereka berkata : Ini sihir yang terang” (61:6).

Menurut ayat suci di atas”kabar baik” atau Injil itu adalah “tentang seorang Utusan yang akan datang sesudah beliau (Isa), yang namanya Ahmad”, jadi kabar baiknya bukan “tentang Yesus Kristus” seperti kata Markus: “Inilah Injil tentang Yesus Kristus” (Mrk 1:1).

  1. Mengapa dinamakan Ahmadiyah ?

Dinamakan Ahmadiyah karena Gerakan ini menghayati aktifitas dakwahnya dengan sifat jamali, yakni sifat keindahan dan keelokan budi pekerti.

Nama Ahmad mengandung sifat jamali diperagakan oleh Nabi Suci dalam periode Mekah, seperti dilukiskan dalam Injil (48:29); sedang nama Muhammad mengandung sifat jalali (keagungan dan keunggulan) diperagakan oleh Nabi Suci dalam periode Madinah, seperti dilukiskan dalam Taurat (48:29). Penerapan pada zaman akhir sifat jamali berhubngan dengan sesama manusia (hablum minannas), sedang sifat jalali berhubungan dengan hablum minallâh atau masalah teologis, seperti diperagakan oleh Hazrat Mirza Ghulam Ahmad (1835-1908).

  1. Bagaimana karakteristik sifat jamali yang menghayati aktifitas Gerakan Ahmadiyah itu?

Karakteristik sifat jamali ada empat syarat yang dijunjung tinggi, yaitu : (a) kekuatan ilmu, (b) kekuatan burhan atau tanda bukti, argumentasi,(c) kekuatan taqwa atau berbakti kepada Allah, dan (d) kekuatan rohani atau pertolongan Allah.

Sifat jamali merupakan sarana untuk mengundang limpahan berkah Ilahi yang melimpah-limpah sebagaimana dijanjikan Ilahi dalam Quran Suci 108:1-3 dan nubuat Isa Almasih dalam Injil (Yoh 20:25-28)

  1. Dalam nama Ahmadiyah terkandung sifat jamali dan jalali, bagaimana implementasinya?

Implementasi kedua sifat itu sebagai berikut : Sifat jamali implementasinya berkenaan dengan umat dakwah, jadi berhubungan dengan sesama manusia (hablum minannas) yang sama-sama dimuliakan oleh Allah (17:70) karena semua manusia adalah “keluarga-Nya”; sedang sifat jalali implementasinya berkenaan dengan akidah yang memang tak ada toleransi, harus dinyatakan dengan tegas dan keras (48:29), tetapi tidak kasar, apalagi menghina sesembahan selain Allah dilarang (6:108).

Dengan demikian, toleransi aktif antara umat beragama di dunia ini terbangun, sebab beda pendapat kawan berfikir, beda akidah kawan dialog dan beda ibadah kawan istabiqul-khairât (berlomba dalam kebaikan).[]

Leave a Comment

Al-Fatihah: Tafsir dalam Konteks Kekinian [6a]

Tafsir dalam konteks sejarah dan dalam konteks ayat dan surat di atas sebenarnya tetap relevan dan signifikan dengan tafsir dalam konteks kekinian, karena Alfatihah merupakan intisari Alquran petunjuk bagi umat manusia untuk sepanjang zaman di mana saja ia berada. Signifikasi hidayah Alfatihah dewasa ini terutama sebagai surat permohonan (sûratud-du’â’) dibagi menjadi dua bagian yang saling berhubungan. Rasulullah saw. bersabda:

 “Tidaklah pernah Tuhan menurunkan sebuah kitab seperti Alfatihah yang tujuh ayatnya ini, baik dalam Injil maupun dalam Taurat, dan Allah Ta’ala berfirman bahwa surat ini terbagi antara Aku dan hamba-hamba-Ku dan mereka yang berdoa serta mengamalkan isi surat itu pastilah Kuterima dan Kuwujudkan kehendak mereka” (H. R. Nasa’i dari Ubay bin Ka’ab r.a.).

Kedua bagian itu, pertama mengenai aspek Tuhan, kedua mengenai aspek insan, baik secara individual maupun kolektif. Keduanya saling berhubungan. Hubungannya sebagai berikut:

Read the rest of this entry »

Leave a Comment

Al-Fatihah: Tafsir Teks dan Konteks Ayat 4-7 [5]

Ayat keempat Iyyâka na’budu wa iyyâka nasta’în, artinya kepada Engkau kami mengabdi dan kepada Engkau kami mohon pertolongan. Katana’budu artinya kami mengabdi, mengandung pengertian ketaatan yang disertai dengan segenap kerendahan hati (TA), yakni ketaatan kepada perintah Ilahi, pandangan, hukum, norma, dan nilai yang termaktub dalam Alquran, agar akhlak Ilahiyah menyerap ke dalam hati sanubari kita, pandangan dan tabiat kita berubah dan sekalian belenggu perbudakan kepada keinginan-keinginan duniawi beserta akibat-akibatnya diputuskan, sehingga kita hidup kembali dengan jiwa merdeka, adil dan bijaksana. Singkatnya, dengan sikap batin yang baru, yang memberi hak kepada kita akan sebutan Khalifah Allah, wakil Allah di muka bumi. Sebagai Wakil Allah tentu berusaha keras “mengambil warna Allah”(2:138), memiliki sifat-sifat yang menyerupai Sifat-sifat Allah (7:180) atau seperti diperintahkan oleh Rasulullah saw.: Takhallaqû bi akhlâqillâh, berbudi pekertilah kamu dengan pekerti Allah. Inisiatif tentang hal ini harus diambil oleh manusia sendiri, sebab Allah tak mengubah keadaan sesuatu bangsa atau karunia yang dianugerahkan kepadanya, hingga mereka mengubah keadaan batin mere-ka sendiri (13:11; 8:53), dan manusia tak dapat memperoleh selain apa yang ia usahakan (53:39). Jadi manusia dikaruniai kebebasan untuk memilih, karena itu ada sorga dan neraka.

Perkembangan khuluq insani tersebut tak mudah men-capainya, maka kita dibimbing agar mohon pertolongan dan bantuan Allah Yang Maha-tahu, Maha-kuasa dan Maha-bijaksana, Sumber segala kekuatan dan segala hukum dan hanya kepada-Nya saja sekalian makhluk bergantung: wa iyyâka nasta’în. Kata kerja ista’ana atau mohon pertolongan (‘aun) Allah mengandung makna, bahwa manusia tak boleh putus asa dan putus harap akan tercapainya suatu tujuan yang baik (38:42), ia harus tabah hati, tekun dan tenang (3:119; 2:153), sebab:

  1. Read the rest of this entry »

Leave a Comment

Al-Fatihah: Tafsir Teks dan Konteks Ayat 2 dan 3 [4]

Ayat kedua, arrahmânir-rahîm. Di sini Rububiyah Ilahi, yakni perbuatan Ilahi memelihara, mengatur, dan memimpin ciptaan-Nya ke arah kesempurnaan – termasuk manusia – dinyatakan dengan dua kata, Arrahmân dan Arrahîm. Keduanya berasal dari kata rahmat yaitu riqqatun taqtadil-hisâna ilal marhûm, kelembutan hati atau kasih sayang yang diikuti perbuatan baik terhadap yang disayangi. Digubah menjadi Rahmân – mengikut wazan fa’lân untuk menunjukkan tingkat perbandingan yang tertinggi – berarti rahmat yang tertinggi, Yang Maha-pengasih. Artinya, Kasih-sayang-Nya demikian besar, sehingga Dia telah menciptakan dan menyediakan segala sesuatu yang dibutuhkan oleh semua makhluk, yang sesuatu itu telah diciptakan sebelum adanya, yang diciptakan dan disediakan, bukan karena permohonan dan bukan pula karena balas jasa, agar setiap ciptaan-Nya dapat mempertahankan dan menyempurnakan dirinya. Bagi manusia, untuk menyempurnakan jasmaninya Allah telah menciptakan alam semesta, sedang untuk menyempurnakan rohaninya Allah menciptakan malaikat, jin dan setan, serta menurunkan agama dan wahyu-Nya yang berisi Pedoman hidup yang tepat untuk menyempurnakan dirinya.

Read the rest of this entry »

Leave a Comment

Al-Fatihah: Tafsir Teks dan Konteks Ayat 1 [3]

Ayat pertama, Alhamdu lillâhi rabbil ‘âlamîn, yang biasanya diterjemahkan segala puji bagi Allah, Tuhan serwa sekalian AlamDalam ayat ini ada empat kata kunci, yaitu: alhamd, Allah, Rabb, dan al’âlamîn.

Kata alhamd, segala puji yang dipakai oleh Allah SWT, bukan kata syukur, madah dan tsana. Syukur berarti menyatakan terimakasih untuk segala macam karunia yang telah diterima; tsana menunjukkan pikiran terimakasih supaya diumumkan, dan madah mengandung arti pujian yang diwujudkan bukan dengan ikhlas, seperti dalam sabda Rasulullah saw. “Ihsu’turaba fi wujuhil-madahina” artinya “Curahkanlah abu di muka orang-orang yang memuji dengan rasa palsu!” Hamd mengandung arti bukan hanya terimakasih untuk segala macam pemberian, tetapi juga mengenai sifat-sifat yang benar-benar terpuji. E. W. Lane dalam kamus Arabic-English-nya menerangkanbahwa hamd “mengandung arti takjub, meluhurkan dan memuliakan sesuatu yang dipuji, sedangkan yang memuji itu merasa suatu kesediaan akan menyerahkan diri, sifat rendah dan tadarru”. Maulana Muhammad Ali menjelaskan bahwa “Kata sandang al dalam al-hamd adalah li istighrâqil jinsi, artinya melingkupi semua jenis (AH), dan menunjukkan bahwa segala jenis puji termasuk di dalamnya”. Maka dari itu tepat sekali jika dirangkai dengan lillâhi, bagi atau milik Allah, alhamdu lillâh. Segala sesuatu yang dipuji karena kebesaran, keagungan, keindahan dan sesamanya hanyalah refleksi keterpujian Dia belaka. Alam semesta adalah kaca kristal keterpujian-Nya (27:44).

Read the rest of this entry »

Leave a Comment

Al-Fatihah: Tafsir dalam Konteks Sejarah [2]

Ada berbagai pendapat tentang pewahyuan surat ini. Sementara pakar berpendapat surat ini diwahyukan dua kali, di Mekah dan Madinah. Tetapi menurut jumhur ulama diwahyukan di Mekah pada zaman permulaan kenabian. Muhammad Izah Darwazah menempatkan pada urutan nomor lima, sesudah surat nomor 74 Almuddatstsir, wahyu ke-4. Sesudah surat Alfatihah, diwahyukan surat nomor 111, Allahab. Jadi dalam menafsirkan surat ini dalam Konteks Sejarah sekurang-kurangnya perlu memahami surat Almuddatstsir yang mendahuluinya dan surat Allahab yang mengikutinya, wahyu ke-6.

Surat Almudatstsir tak diwahyukan sekaligus, hanya bagian permulaan saja yang diwahyukan dalam urutan ke-4, tepatnya ayat pertama sampai ayat berapa, wallahu a’lam. Demikian pula surat Almuzammil yang diwahyukan dalam urutan ke-3, juga hanya bagian permulaannya tanpa diketahui secara tepat. Ada yang berpendapat bahwa kedua surat itu agaknya ‘kembar’ karena keduanya berkaitan begitu erat dalam hubungan dengan saat kedua surat ini diturunkan – yakni sesudah terjadi masa fatrarul-wahyi, terputusnya wahyu untuk sementara – serta nada dan tujuannya. Rasulullah saw. sebagai Sang Muzammil atau Orang yang berselimut dianjurkan agar menjalankan salat dan berzikir kepada Allah sebagai persiapan untuk mengemban amanat yang amat berat, lalu dalam surat 74 ini Rasulullah saw. diseru Ilahi sebagai Muddatstsir, orang yang berselubung. Masa fatrah yang terjadi selama sekitar enam bulan lamanya terasa amat berat bagi Rasulullah saw. dan beliau amat berduka cita karena waktu selang itu. Beliau menyelubungi diri dengan kain, saat itu datanglah malaikat Jibril yang memberitahu agar beliau jangan menyendiri lagi, tetapi supaya bangun dan memberi peringatan kepada bangsa yang tenggelam dalam kejahatan dan kebiadaban. Beliau dianjurkan agar senantiasa mengagungkan Tuhannya, menganggap kecil segala yang ada di alam semesta ini, dan agar membersihkan dirinya, pakaiannya, tempat tinggalnya, dari kekotoran sebagai tanda kebersihan dan kesucian cita-citanya, serta seruan untuk menjauhkan diri dari perbuatan dosa syirik dan dosa-dosa lainnya, dan dalam menjalankan tugas kerasulan hendak-nya sabar, ikhlas, dan tanpa pamrih, hanya karena ridha Allah semata.

Read the rest of this entry »

Leave a Comment

Al-Fatihah: Pengantar [1]

Dengan nama Allah Yang Maha-pengasih, Yang Maha-penyayang
Segala puji bagi Allah, Tuhan serwa sekalian alam
Yang Maha-pengasih, Yang Maha-penyayang
Yang memiliki Hari Pembalasan
Kepada Engkau kami mengabdi dan kepada Engkau kami mohon pertolongan
Pimpinlah kami pada jalan yang benar
Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat
Bukan jalan orang-orang yang terkena murka dan bukan pula (jalan) orang yang sesat

Surat Alfâtihah, lengkapnya Fâtihatul-kitâb artinya Pembukaan Kitab. Surat ini dikenal dengan berbagai nama, misalnya:

  1. Sab’un minal-matsâni, tujuh ayat yang selalu diulang (15:87), karena tujuh ayatnya selalu diulang oleh setiap orang Islam dalam salatnya. Menurut Zajjaj dan Abu Hayyan, nama ini mengandung puji-pujian kepada Tuhan.
  2. Alqur’ânul-‘azhîm, Alquran yang agung (15:87). Nama ini menunjukkan bahwa surat ini merupakan bagian dari Kitab yang mulia itu, dan karena itu Rasulullah menyebutnya Alquran yang agung (Musnad).
  3. Fâtihatul-kitâb atau Pembukaan Kitab (Bukhari) yang kemudian disingkat menjadi Fâtihah atau Alfâtihah saja. Nama ini menunjukkan bahwa surat ini ditempatkan pada permulaan Kitab, sebagai kunci pembuka seluruh pembahasan Alquran.
    Read the rest of this entry »

Leave a Comment

Tanggapan atas pemberitaan di Suara Islam Online

Tulisan Shodiq Ramadhan bertajuk “Debat Majelis Mujahidin versus GAI” dalam Suara Islam Online, perlu saya beri catatan agar pembaca mendapat gambaran lebih utuh, karena tulisan Shodiq saya nilai tendensius.

Catatan saya adalah:

Pertama
Orasi singkat saya didasarkan atas dua ayat alQuran, yaitu An-Nur [24]:55 dan An-Nisa [4]:59. Ayat pertama mengandung petunjuk adanya persamaan antara umat Islam dengan Bani Israel, antara lain sama-sama dibangkitkan para khalifah, baik secara duniawi maupun ukhrawi. Hanya bedanya, khalifah ukhrawi Bani Israil disebut Nabi atau Rasul, sedang khalifah ukhrawi umat Islam disebut Mujaddid atau Imam. Persamaan lainnya adalah sama-sama dibangkitkan alMasih, yang kedatangannya telah dinubuatkan sebelumnya. AlMasih Israili adalah Isa bin Maryam, sedang AlMasih Islami adalah Hazrat Mirza Ghulam Ahmad. Antara keduanya terdapat persamaan, yakni adanya tiga perspektif umat terhadap diri beliau berdua, seperti terlukis dalam dekorasi diskusi ini: anak panah ke arah kanan, ke atas dan ke kiri.

Read the rest of this entry »

Leave a Comment

Kaidah Tafsir alQur’an

“Dia ialah Yang menurunkan Kitab kepada engkau; sebagian ayat-ayatnya bersifat menentukan (mukhamat) – inilah landasan Kitab – dan yang lain bersifat ibarat (mutasyabihat). Adapun orang yang hatinya busuk, mereka mengikuti bagian yang bersifat ibarat, karena ingin menyesatkan dan ingin memberi  tafsiran (sendiri). Dan tak ada  yang tahu  tafsirnya selain Allah, dan orang yang  kuat sekali ilmunya, mereka  berkata: kami beriman kepadanya, semua ini adalah dari Tuhan kami. Dan tak ada yang mau berfikir, selain orang yang mempunyai akal.” (Q.S. 3:7).

Rapat Kerja Nasional Majelis Ulama Indonesia (Rakernas MUI) di Jakarta tgl 6 November 2007 memutuskan Sepuluh Kriteria Sesat. Seseorang atau segolongan orang dinyatakan sesat atau menyimpang dari jalan yang benar jika a.l. ”melakukan penafsiran Al-Qur’an  yang tidak berdasarkan kaidah-kaidah  tafsir.” Sayang kaidah-kaidah tafsir yang valid tak disebutkan, maka kriteria tersebut justru  membuat umat semakin bingung. Padahal  masalahnya amat signifikan dan urgen dalam memahami suatu ayat. Oleh karena itulah Pembaharuan Islam menurunkan artikel ”Kaidah Tafsir Al-Qur’an” yang valid. Validitasnya dapat diuji.

Read the rest of this entry »

Leave a Comment

Kashrush-Shalib

“Demi Dzat yang jiwaku di tangan-Nya, sesungguhnya hampir turun kepadamu Ibnu Maryam menjadi hakim yang adil, maka ia akan memecahkan salib (yaksirush-shalib) …” (H.r. Bukhari)

Hadits  nuzul atau turunnya Nabi Isa ibnu Maryam kontroversial.  Imam Syaukani menilai mutawatir ma’nawiyah, tetapi Mahmud Syalthut menilai Ahad. Batu  uji Hadits profetik adalah Qur’an Suci dan bukti sejarah.  Qur’an Suci sebagai  Kitab nubuat yang nubuatnya tergenapi  pada suatu  waktu  secara implisit  menerangkan hal itu dalam Surat Az-Zuhkruf (43) ayat 57-61, maka dari itu  sabda Nabi tentang nuzul Nabi Isa ibnu Maryam shahih adanya. Untuk  memperoleh pengertian  yang benar, terlebih dahulu harus memahami tentang mati-hidupnya Almasih Isa bin Maryam a.s.

Read the rest of this entry »

Leave a Comment